Van De Meer

0
1453

Oleh : Salsa Bila Eka Putri

Kertosono, Desember 1947

Suasana tenang dan damai menghiasi pagi itu. Setelah Agresi Miiter Belanda I pecah, Indonesia mengalami banyak perubahan lagi. Perjuangan untuk mendapatkan pengakuan begitu sulit,Indonesia harus menghadapi Sekutu dan Belanda yang begitu licik. Bocah berumur 15 tahun dengan kulit warna sawo matang dan rambut sedikit ikal itu menatap bendera merah putih dengan khidmat disalah satu rumah warga.

 “DOOR!!” tiba-tiba suara tembakan terdengar begitu jelas ditelinga Anto. Anto bergegas lari mencari perlindugan diantara semak-semak.

“Itu seperti orang-orang Belanda! Apa mau mereka?” kata Anto dengan wajah yang marah.

Tentara Belanda terus memberondong peluru kepada warga  yang lewat. Darah bercucuran dimana-mana, Anto melihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Hei, Kau anak kecil! Ayo, ikut kami!” tentara Belanda itu menarik kerah baju Anto.

 “Tidaaak!! Lepaskan!!”Anto tak bisa mengelak ia  dipaksa naik ke mobil tentara Belanda itu.

***

‘BRUGH!’ bunyi seperti benda jatuh terdengar oleh orang-orang yang berada di halaman rumah  mewah ala Belanda itu.

“Peter, siapa yang kau bawa? Anak yang manis” puji seorang wanita berkulit putih dan berambut pirang sambil mengelus pipi Anto. Anto menjauhkan wajahnya, baginya tangan itu mengotori wajahnya. Tangan warga Belanda.

“Pelayan! Beri dia makan dan siapkan tempat tidur yang bagus untuknya!” perintah wanita Belanda itu sambil berajalan kedalam rumah.

“Aku tidak memiliki anak dan sepertinya istriku menyukaimu. Itu sebabnya aku membawamu kesini.” laki-laki itu menatap mata Anto dengan dalam.

“Siapa namamu? Namaku Peter”

“Anto!” Jawab Anto pendek dengan nada kesal.

   Semenjak kejadian itu, Anto menjadi anak angkat di keluarga itu. Berlatih senjata seperti tentara Belanda lainnya. Istri Peter sangat baik dan menyayangi Anto seperti anak kandung sendiri. Anto diberi makan enak-enak, diberi sekolah privat seperti anak-anak Belanda yang lain.

Walaupun begitu, ia tak akan lupa dengan masa kecilnya, tak akan lupa jati dirinya, dan tak akan lupa Tanah Airnya, Indonesia. Sesekali ia menyelinap masuk ke ruang kerja Peter, mencari informasi tentang rencana selanjutnya.

 “Hei, Pandemir!” seseorang memanggil Anto saat ia berlatih menembak di halaman belakang. Seorang pelayan berdarah Indonesia-lah yang ternyata memanggilnya.

“Siapa Pandemir? Namaku Anto”

“Kau tahu apa itu pandemir, kan? Pandemir itu ketela pohung berwarna hitam dan beracun, atau orang Kertosono menyebutnya Telo Ndruwo. Jika orang awam melihatnya, ia tidak akan tahu kalau ketela itu beracun. Sama sepertimu, kau itu seperti Pandemir, beracun bagi rumahmu sendiri.” Kata pelayan itu.

“Apa maksudmu?” Anto mengernyitkan dahi.

“Pssstt… Aku tahu kau diam-diam melawan Ayah angkatmu sendiri dengan bergabung dengan pasukan pejuang.” Pelayan itu berbisik.

“Tunggu, Kau menguntitku, ya?” Anto menyipitkan matanya

“Aku tahu segalanya tentangmu, tentang orangtuamu, dan semua gerak-gerikmu. Tapi istri Si Peter sangat baik padamu. Lalu, ketika rencanamu ketahuan apa kau akan pergi dari rumah ini?”

“Untuk sementara aku akan mencoba sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Aku harus bertahan disini agar aku bisa menguping strategi Peter.” kata Anto.

“Baiklah, tetaplah berjuang demi bangsa kita. Aku akan mendukungmu, Pandemir, Telo Londo” Pelayan itu menepuk pundak Anto lalu pergi.

Semenjak saat itu, Anto terus memikirkan julukan pandemir yang diberikan pelayan itu padanya, Anto membuat nama samaranya menjadi Van De Meer – plesetan dari sebutan Pandemir. Ia diam-diam ikut berperang melawan Belanda termasuk pasukan Ayah angkatnya sendiri. Setiap dia membunuh tentara Belanda, dia selalu meninggalkan tanda bertuliskan VDM.

***

Kertosono, Desember 1948

Rumah Peter sangat ramai, tentara Belanda berkumpul di ruangan kerja Peter. Anto yang curiga, mengintip dari balik pintu ruangan.

   “Kita akan melakukan agresi kedua. Tentara sudah tersebar yang satunya akan  menyerang ibukota Indonesia dan kita menyerang daerah yang ada disekitar sini” Peter menjelaskan dengan rinci rencana yang akan dilakukan oleh Belanda.

“Siap Komandan!” Anto yang mendengar pecakapan itu langsung bergegas mengambil senjata dan pena serta berlari keluar rumah. Ia bermaksud memberitahu pasukan Indonesia untuk mengambil langkah mengatasi masalah ini. Mendengar berita dari Anto, Letnan pasukan pejuang yang bernama Siswojo segera menyiapkan strategi dan mengumpulkan pasukan di Jembatan Kertosono. Jembatan Penghubung antara daerah Kertosono dan Jombang itu digunakan sebagai akses Belanda untuk menguasai daerah-daerah. Menurut yang Anto dengar, Belanda akan menyerang dari arah Madiun menuju Jembatan Kertosono, melewati Desa Baron.

“Kita harus menyiapkan strategi yang tepat, Meer. Bagaimana menurutmu?” Tanya Letnan Siswoyo kepada Anto yang ia panggil Meer.

“Pertama-tama, kita siapkan bom yang banyak. Granat, Ranjau, TNT, atau apa saja yang bisa diledakkan. Kita simpan di beberapa titik yang akan dilewati Belanda.” Jelas Anto.

“Lalu, bagaimana jika mereka menggunakan tank? Bom-bom kecil seperti itu tidak akan bisa menghalangi mereka menuju Jembatan Kertosono.”

“Kita siapkan pasukan disana untuk bergerilya. Sementara itu, malam ini aku akan pulang ke rumah Peter. Akan kucurikan senjata untuk kalian. Ingat, jemput aku saat fajar.”

Letnan Siswojo dan beberapa orang lainnya yang disana mengangguk paham.

***

Keesokan harinya…

Pagi hari itu, agresi militer Belanda dimulai, Anto dan pejuang lain sudah bersiap-siap untuk menghadapi Belanda.

“Merdeka! Merdeka!!” teriak Anto sambil mengangkat senjata yang ia bawa.

“Merdeka! Ayo hancurkan Jembatan Kertosono! Agar tidak bisa dilewati oleh Belanda!” teriak Anto.  Para pejuang berupaya meledakkan Jembatan Kertosono. Namun,tak berhasil hanya sebagian jembatan saja yang berlubang. Pak Siswojo yang berpangkat Letnan pun tak mampu.

“Tidak bisa di bom Meer!” Seru Pak Sis. Pak Sis yang memanggil Anto dengan sebutan Meer pun resah. Anto langsung berjalan ke jalan arah Kertosono dan Baron. Ia memasang ranjau disepanjang jalan untuk menghentikan Belanda.

Tanker Belanda mulai melaju ke arah jalanan Kertosono. Semua orang bersembunyi di lubang-lubang didalam tanah untuk melindungi diri mereka. Ranjau telah berhasil melumpuhkan mobil-mobil perang Belanda. Di Desa Baron, terdapat Seorang warga bernama Lasidin ditembak mati karena berusaha menyerang warga Belanda yang berjalan dengan bambu runcing.

“DOOR!!”suara tembakan itu terdengar jelas. Anto langsung berhadapan dengan ayah angkatnya. Peter menatap wajah Anto dengan marah.

“Keparat! Aku sudah tahu Meer. Kau yang membuat kerusuhan di rumahku, mencuri senjata, membunuh pasukanku, dan membuat tanda VDM. Dasar tidak tahu diri! Makanya kau harus kubunuh sekarang!” Peter menodongkan senjatanya.

“Silahkan kau bunuh aku, namun aku tak mau membunuhmu, istrimu sudah begitu baik padaku. Hanya saja jangan halangi aku.”

“Sejak awal harusnya kubunuh kau!”

“Salahmu sendiri kau bodoh! Percaya padaku begitu saja.”Anto tertawa keras. Aliran Sungai Brantas sangat deras,baku tembak tentara Belanda dan para pejuang terdengar sangat jelas.

“DOORR!!” timah panas itu menembus kepala Anto. Darah mengucur deras dari pelipisnya.

“Jembatan ini akan dikenang, Van De Meer. Tentang pertemuan kau dan aku”. Peter berkata sembari menendang tubuh Anto jatuh ke sungai Brantas.

Letnan Siswojo yang mengetahui hal itu langsung berlari dan berteriak, “MEEEEEEEEEER!!! TIDAAAAKKK!!!” Dia menembakkan pistolnya ke arah Peter. Peluru Letnan Siswojo menembus jantung Peter. Peter-pun ambruk seketika dan meninggal ditempat.

“Aku bersumpah akan menjaga negeri ini meskipun nyawa taruhanku, aku akan berjuang sampai mati sama sepertimu, Meer.” Letnan Siswojo berkata sambil menatap nanar ke arah sungai tempat Anto alias Van de Meer meninggal.