Monumen Van Der Wijck, Brondong Lamongan

0
501

Monumen Van Der Wijck terletak dalam area Kantor Pelabuhan Brondong berbentuk sebuah pos pemantau dengan tinggi 15 meter yang dibangun masa pemerintahan Hindia Belanda. Tahukah sahabat Arkeo-Historia bahwa monumen peringatan tersebut, dahulu difungsikan sebagai mercusuar. Bagian dinding Barat dan Timur monumen terdapat prasasti dalam ejaan bahasa Belanda yang mengungkap rasa terima kasih pemerintah Hindia Belanda kepada nelayan penyelamat korban dari musibah tenggelamnya Kapal Van Der Wijck pada monumen tersebut, tertulis “ Tanda Peringatan Kepada Penoeloeng-penoeloeng Waktoe Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck “.

Sekilas info, untuk sahabat Arkeo-Historia bahwa pemberian nama Kapal Van Der Wijck ternyata diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang bernama Jonkheer Carel Herman Aart Van Der Wijck yang memerintah tahun 1893 hingga tahun 1899. Dahulu kapal Van Der Wijck digambarkan sebagai kapal yang mewah dan indah difungsikan untuk mengangkut penumpang dan kargo. Kisahnya kapal Van Der Wijck merupakan kapal uap milik Maskapai Belanda yang bernama Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM)  diproduksi tahun 1921 di galangan kapal Fyenoord, Rotterdam Belanda. Kisah munculnya kapal Van Der Wijck merupakan cikal bakal lahirnya Pelayaran Nasional Indonesia.

dokumentasi : buku The Decay of the SS Van Der Wijk

Wahai sahabat Arkeo-Historia kisah pelayaran terakhir kapal mewah Van Der Wijck tersebut, diberitakan sekitar bulan Oktober 1936 berangkat dari Bali menuju Jakarta menyinggahi Surabaya dan Semarang kemudian meneruskan pelayaran ke Sumatera. Tahukah sahabat Arkeo-Historia, dikabarkan kapal mewah yang juga dijuluki “de meeuw“ atau “ the seagull “ karena figurnya yang anggun dan tenang mengalami peristiwa tenggelam tanggal 20 Oktober 1936, menjadi penghuni dasar perairan Brondong Lamongan atau tepatnya 12 mil dari pantai Brondong Lamongan. Sahabat Arkeo-Historia kisah dari tragedi tenggelamnya dikenang, diangkat dan dibuat Novel oleh Buya Hamka dan dibuatkan film tahun 2013 yang menceritakan Zainudin dan Hayati sepasang kekasih yang terhalang cintanya karena terhalang adat tradisi masyarakat dengan mengambil latarbelakang kemewahan kapal Van Der Wijck.