KEMILAU EMAS HIASAN GARUDEYA (2)

0
1227

Nama  Koleksi        : Hiasan Garudeya

Asal                      : Kediri

Berat                    : 1.163.09 Gram

Kadar Emas            ; 22 Karat   

Ukuran                  : P. 37 Cm, L. 22 Cm

Sumber Informasi : Collection Of Gold, Museum Negeri Mpu
Tantular, Provinsi Jawa Timur

Penulis                   ; Nina Rossana

Makna Dibalik Ornamen Hiasan Garudeya

1.Ornamen telapak tangan kiri

Ornamen telapak tangan masa Hindu-Budha berhubungan dengan figure arca dewa. Dalam ikonografi Hindu-Budha tangan dan telapak tangan berhubungan dengan sikap gerak tangan sebuah arca yang disebut hasta dan mudra. Hasta adalah sikap lengan seluruhnya dengan sikap tangan beserta jari-jarinya. Mudra adalah sikap telapak tangan beserta jari-jarinya (Maulana 84). Lukisan telapak tangan kiri dengan jari-jari terbuka pada artefak Hiasan Garudeya menunjuk pada mudra tertentu merupakan salah satu dari pancamakara yang disebut Pancatattwa, yaitu sikap tangan yang menimbulkan tenaga-tenaga gaib (Soedirman 1977; Suekatmono 1988). Atas dasar relevansinya, maka artefak hiasan Garudeya menunjukkan keberadaannya sebagai ciri dari aliran kiri dalam kepercayaan tantrayana

2. Ornamen Garuda

Garuda dalam mitologi Hindu merupakan lambang”kebebasan” hidup bebas di alam terbuka yang tidak terikat oleh sesuatu batas (Santiko, 1971), sedangkan air amerta berarti air suci “abadi”. Sementara hubungan Garuda dengan Amerta dapat dilihat didalam adiparwa yang disebut “Garudeya” yaitu

Ketika Garuda menebus dewi Winata ibunya, dari perbudakan dewi Kadru dengan siasat menukarnya dengan air amerta milik para dewa(Santiko,1971).

Kebebasan dan keabadian selalu terkait dengan usaha mempercepat proses pencapaian jiwa moksa, yaitu kebebasan dari semua ikatan duniawi.

3. Ornamen Figur Raksasa berdiri membawa gada

Ornamen seperti ini dapat diidentifikasikan sebagai Mahakala, yaitu salah satu aspek dari dewa siwa yang bersifat kroda / demonis (Soekmono,1988).Di jawa Mahakala dijumpai di candi Hindu bersanding dengan Nandiswara sebagai penjaga pintu utama candi. Namun mahakala pada artefak hiasan Garudeya ini berdiri dengan sikap merentangkan kedua kakinya, tidak dapat dihubungkan sebagai penjaga kuil Dewa. Secara Budhisme Mahakala adalah pembunuh besar penguasa lapangan mayat ketika api menguasai yang dibakar. Disanalah mahakala tampil dengan rambut merah menyala-nyala dengan sifat krodanya berwujud burung garuda sebagai burung nyawa yang rakus (Moens, 1974)

4. Figur wajah demonis dengan pakaian kedewaan dalam posisi gerakan menari

Dalam Hindu, dewa yang melakukan tari-tarian seolah olah tanpa berhenti Adalah Siwa. Gambaran figure ini posisi gerak kaki arca Bhairawa atau Singosari (Bernet Kempers, 1959). Dengan demikian dapat diasumsi bahwa gambar ini adalah “Siwa” yang menari, yang dalam aliran tantra dikenal sebagai Bhairawa.

Lukisan pemandangan hutan dengan sebuah “bale” sebagai latar belakang, serta beberapa orang berpakaian pertapa di dalam caruk, ada yang berperut buncit kekenyangan dengan wadah mangkuk di depanya, ada figure pertapa sedang semadi yang penggambarannya mirip Dyani Budha Amitabha.

Suasana seperti ini menggambarkan suasana sebuah mandala atau lingkungan pertapaan. Apabila relief ini dikorelasikan dengan Garuda, Mahakala, dan Bhirawa, maka tidak diragukan lagi bahwa lukisan dari semua relief ini menggambarkan suatu wanasrama Bhasma, yaitu sebuah ksetra dari aliran tantra sebagai tempat melakukan upacara tantra (Suwardono: 2016).

5. Klintingan-klintingan (circir).

Klintingan yang menghiasi Pingir-pinggir Hiasan Garudeya,menyerupai klintingan yang digunakan oleh para pendeta dari aliran tantra sebagai sarana prosesi upacara. Arca Bhairawa dari percandian Singosari menggunakan sabuk sari sederetan circir yang diikat di perutnya (Suwardono, 2016).

          Dari pembahasan diatas apabila ditinjau dari sisi mikrologi terhadap bagian-bagian artefak hiasan Garudeya, maka dapat dikatakan bahwa benda tersebut sarat dengan filsafat Tantrayana. Aliran tantra yang menonjol di Indonesia ada pada masa Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari abad XIII M dan Raja Adityawarman dari kerajaan Melayu di Sumatra abadXIV M. Kalaupun benda tersebut diduga berasal dari Champa, karena singosari dan Raja Kartanegara pernah mengadakan hubungan persahabatan dengan Champa (Sumadio,210), yang memiliki seorang istri dari jawa yaitu Tapasi.

         Sebagai penegasan untuk memperkuat dugaan bahwa benda tersebut dibuat pada masa kerajaan Singosari adalah motif kain yang dipakai oleh Garuda dan Mahakala, yaitu Motif “Jlamprang”, serta hiasan tanduk yang terdapat pada kepala Mahakala. Sejauh penelitian terhadap motif kain yang dikenakan arca, hanya arca-arca singosari yang memiliki motif “jlamprang” seperti arca “Prajnaparamitha” / Ken Dedes, arca Parwati dan arca Durgamahisasuramardini dari candi Singosari. Sementara hiasan tanduk yang dikenakan Mahakala mirip tanduk pada kepala Kala pada
Kepala Kala pada candi-candi di jawa timur produk kesenian Singosari.

Lebih jauh lagi dikatakan bahwa lambang-lambang yang terdapat pada artefak, yaitu gambar tangan dengan jari-jari terbuka, Garuda, Mahakala, dan Bairawa diduga merupakan sebuah sengkala. Gambaran tangan memiliki arti angka 2, Garuda (Raja Burung) angka 1, Mahakala ( Penguasa atau penjaga )

Angka 2, Bairawa angka 1. Sehingga terbaca angka tahun 2121. Pembacaan sengkala dilakukan terbalik, yaitu 1212, yang tentunya menunjuk pada tahun saka. Jika dijadikan tahun masehi ditambah 78, sehingga terdapat tahun 1290M, yang diduga merupakan tahun pembuatan artefak (Suwardono : 2016).

Dari uraian tersebut dapat diduga bahwa artefak Emas Hiasan Garudeya merupakan salah satu artefak yang tergolong ideofak, yaitu suatu benda yang berhubungan dengan keagamaan. Dalam kepercayaan Tantra benda tersebut adalah  Yantra yang merupakan alat bantu dalam upacara tantra untuk melakukan meditasi atau samadi ( Rita Istari, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Perhiasan Tradisional masa Kerajaan Majapahit, sumber Faldirek 9 April 2014.
  2. Jewelry the Colllection of the National Museum of Indonesia
  3. Rita Istari, TM 2002, Pelaksanaan Upacara Ritual Dalam Tantrayana. Dalam Berkala Arkeologi tahunXXI edisi 1 Mei, hal 40 – 48, Yogyakarta Balai Arkeologi.
  4. Suwardono, Membaca Koleksi Garudeya berdasarkan tinjauan historis dan mikrologis, Surabaya, Museum Negeri Mpu Tantular 2016.
  5. Sumadio, Bambang (ed) 2010 Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno, Jakarta : Balai Pustaka
  6. Bernet Kempers,AJ 1956. Bali Purbakala, Djakarta : Penerbit dan Balai Buku Indonesia.
  7. Santiko, Hariani 1971, Asal Mula Ular (naga) dan Garuda dalam keprcayaan masyarakat Indonesia Hindu. Dalam Mimbar Ilmu, no 9/10 th. V Maret/ Juli. Malang Fak. Keguruan Ilmu Sosial IKIP Malang.