PEMETAAN ARCA DAN RELIEF PADA CANDI PENINGGALAN KERAJAAN SINGOSARI DI JAWA TIMUR

0
2830

CANDI KIDAL

Relief dan Arca

Relief Burung Garuda (Cerita Garudeya ) sebanyak tiga buah panil, yang dipahatkan di pilaster (tiang semu) candi.

Relief Burung Garuda dengan wujud antrophomorfis (manusia setengah burung ) ataupun berbadan manusia, sedangkan kepala dan telapak kakinya menyerupai burung Garuda.

Relief Garuda dipahatkan dengan posisi sedang memanggul tiga ekor ular pada bagian pundaknya.

Menggambarkan fase Perbudakan dimana Adegan relief ini menceritakan ketika winata dan anaknya garudeya sedang berada di dalam perbudakan Keluarga Kadru, dimana Garudeya harus melayani mengasuh dan mengantarkan ular ular itu berpesiar dengan meletakkan ular ular tersebut pada bahunya.

Dikisahkan dalam Mythos Hindu bahwa :
“Kadru dan Winata adalah 2 bersaudara istri resi Kasiapa. Kadru mempunyai anak angkat 3 ekor ular dan Winata memiliki anak angkat Garuda. Kadru yang pemalas merasa bosan dan lelah harus mengurusi 3 anak angkatnya yang nakal-nakal karena sering menghilang di antara semak-semak. Timbullah niat jahat Kadru untuk menyerahkan tugas ini kepada Winata. Diajaklah Winata bertaruh pada ekor kuda putih Uraiswara yang sering melewati rumah mereka dan yang kalah harus menurut segala perintah pemenang. Dengan tipu daya, akhirnya Kadru berhasil menjadi pemenang. Sejak saat itu Winata diperintahkan melayani segala keperluan Kadru serta mengasuh ketiga ular anaknya setiap hari. Winata selanjutnya meminta pertolongan Garuda untuk membantu tugas-tugas tersebut.

Relief Garuda dipahatkan dengan posisi sedang menyunggi Amreta dalam suatu wadah yang bentuknya menyerupai piala bercerat (kamandalu)

Menggambarkan fase Penebusan dari Perbudakan. Penggambaran ekspresi dari bhakti anak kepada ibunya. Diceritakan bahwa :

“Ketika Garuda tumbuh besar, dia bertanya kepada ibunya mengapa dia dan ibunya harus menjaga 3 saudara angkatnya sedangkan bibinya tidak. Setelah diceritakan tentang pertaruhan kuda Uraiswara, maka Garuda mengerti. Suatu hari ditanyakanlah kepada 3 ekor ular tersebut bagaimana caranya supaya ibunya dapat terbebas dari perbudakan ini. Dijawab oleh ular “bawakanlah aku air suci amerta yang disimpan di kahyangan serta dijaga para dewa, dan berasal dari lautan susu”. Garuda menyanggupi dan segera mohon izin ibunya untuk berangkat ke kahyangan. Tentu saja para dewa tidak menyetujui keinginan Garuda sehingga terjadilah perkelahian. Namun berkat kesaktian Garuda para dewa dapat dikalahkan. Melihat kekacauan ini Bathara Wisnu turun tangan dan Garuda akhirnya dapat dikalahkan. Setelah mendengar cerita Garuda tentang tujuannya mendapatkan amerta, maka Wisnu memperbolehkan Garuda meminjam amerta untuk membebaskan ibunya dan dengan syarat Garuda juga harus mau menjadi tungganggannya. Garuda menyetujuinya. Sejak saat itu pula Garuda menjadi tunggangan Bathara Wisnu seperti tampak pada patung-patung Wisnu yang umumnya duduk di atas Garuda. Garuda turun kembali ke bumi dengan amerta”

Relief Garuda dipahatkan dengan posisi sedang menggendong ibunya pada punggungnya untuk terbang meninggalkan Kadru.

Relief ini menggambarkan fase Kemerdekaan dimana Garudeya berhasil membebaskan ibunya “Winata” dari perbudakan Kadru, yaitu “Dengan bekal air suci amerta inilah akhirnya Garuda dapat membebaskan ibunya dari perbudakan atas Kadru. Hal ini digambarkan pada relief ketiga dimana Garuda dengan gagah perkasa menggendong ibunya dan bebas dari perbudakan”. Perjuangan yang dilakukan oleh Sang Garuda (Garudeya) merupakan ekspresi tentang bhakti anak kepada ibu.

Medalion

Merupakan ragam hias pada candi yang berbentuk bulat. Terpahat pada kaki dan tubuh candi Kidal

Jambangan

Merupakan wadah air Tempat untuk mewadahi atau menyimpan amerta (air suci) sebagai air kehidupan yang dimiliki oleh para Dewa.

Kepala Kala yang dipahatkan di atas pintu masuk dan bilik-bilik candi.

Hiasan kepala kala Candi Kidal tampak menyeramkan dengan matanya melotot, mulutnya terbuka dan tampak dua taringnya yang besar dan bengkok memberi kesan dominan. Di sudut kiri dan kanannya terdapat jari tangan dengan mudra (sikap) mengancam. Maka sempurnalah tugasnya sebagai penjaga bangunan suci candi.

Kala, salah satu aspek Dewa Siwa dan umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci yang ditunjang dengan sikap mata melotot dan jari jari tangan yang mengancam sebagai sikap sempurna sebagai penjaga candi. Adanya taring pada Kala merupakan ciri khas candi corak Jawa Timuran.

Yoni

Yoni berbentuk kubus dan pada bagian tengah terdapat lubang berbentuk persegi. Merupakan symbol dari kesuburan wanita

Arca Shiwa

Arca tersebut dalam sikap berdiri, tingginya 1,23 meter dan bertangan empat. Tangan kanan belakang memegang aksamala (tasbih), tangan kiri belakang membawa camara. Diantara sikap demikian ini menunjukkan ciri yang khas bagi arca perwujudan. Bersifat agama Hindu, dahulunya di ruangan candi (garbhagrha) merupakan tempat arca Siwa Mahadewa yang saat ini telah disimpan di Royal Tropical Institute di Amsterdam. Terdiri dari, arca perwujudan Raja kedua Kerajaan Singhasari dan raja Anuspati.

Arca Nandiswara

Nandiswara sebagai aspek Nandi dalambentuk anthropomorkfiik (bentuk manusia). Nandiswara berasal dari kata nandi yang merupakan kendaraan Dewa Siwa dan Iswara yang merupakan salah satu aspek Dewa Siwa. Pada candi hindu, arca ini menempati relung sebelah kanan gapura pintu masuk candi.

Arca Mahakala

Kepala Kala yang dipahatkan di atas pintu masuk dan bilik-bilik candi. Kala, salah satu aspek Dewa Siwa dan umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci.

Arca Manjusri

Mañjuśrī digambarkan sebagai seorang bodhisattva laki-laki yang memegang pedang menyala di tangan kanannya. Manjusri adalah seorang bodhisattva yang dikaitkan dengan kebijaksanaan, pengajaran dan kesadaran dan dalam tradisi Vajrayana merupakan dewa meditasi (yidam) , yang menggambarkan kebijaksanaan yang tercerahkan.

Arca Dewa Wishnu

Wisnu adalah salah satu Dewa Trimurti berkedudukan sebagai dewa pemelihara.

Lokasi: Kabupaten Malang
Periodesasi: 1222 – 1292

CANDI JAGO

Relief dan Arca

Relief Cerita Tantri

Relief Tantri dipahatkan pada bingkai atas teras candi yang pertama.

Adegan seekor buaya yang berhadapan dengan seekor lembu jantan, kemudian buaya tersebut naik di atas punggung lembu jantan yang sedang menyeberangi air. Terdapat juga adegan seorang pemburu sedang menangkap kura-kura dan membawanya pergi. Ada juga adegan pemburu dengan seekor kijang.

Relief Cerita Kunjara Karna

Relief Kunjarakarna yang bersambung dengan bingkai bawah teras kedua candi Bercerita tentang adegan Kuñjarakarna dan kawannya Purnawijaya menghadap Wairocana untuk mempelajari agama Buddha.

Relief Cerita binatang : burung bangau, kura-kura, srigala.

Adegan seekor burung bangau membawa terbang dua ekor kura-kura, dengan cara menggantung kedua ujung tongkat kayu dan mengigitnya. Adegan serigala yang memangsa kura-kura.

Relief Parthayajna dan & Arjunawiwaha.

Relief Partayajna dipahatkan pada tubuh teras kedua. Relief Arjunawiwaha dipahatkan pada bingkai bawah teras ketiga. Menceritakan adegan para Pāndawa setelah kalah bermain dadu dan mendapat penghinaan – penghinaan yang di luar batas dari para Kurawa. Akhirnya mereka ke hutan dan Arjuna bertapa di Gunung Indrakila.

Arca Amogaphasa

Arca batu pāduka Amoghapāśa sebagai salah satu perwujudan Lokeswara sebagaimana disebut pada prasasti Padang Roco

Arca Cyamatara

Arca pecah dan terbelah di bagian leher dan sandarannya (fragmen sandarannya hilang) tetapi sudah dibina ulang kembali dengan semen. Arca menggambarkan tokoh dewa Sudhanakumara

Arca Hayagriva

Arca berdiri tegak dengan pinggang agak condong ke kiri.digambarkan dengan wajah yang menyeramkan, mata melotot, mulut menyeringai dengan kedua taring menonjol keluar. Hayagriva yang dipuja sebagai dewa ilmu pengetahuan

Arca Bhrekuti

Arca bertangan empat; tangan kanan depan memegang kendi, tangan kanan belakang ditekuk ke atas memegang ranting (?), tangan kiri depan memegang aksamala (tasbih) yang didekapkan di dada, tangan kiri belakang diangkat ke samping kepala dalam sikap menghormat. Arca menggambarkan tokoh dewi Bhṛkuṭī, ia adalah pasangan (istri) dari Hayagriva.

Arca Amitabha

Wajah dan hiasan kepala arca gompel besar. Arca duduk bersila di bantalan teratai ganda. Dhyani Buddha Amitabha yang menguasai arah mata angin sebelah Barat

Arca Dhyani Budha Aksobya

Arca Dhyani Buddha Aksobya dibuat dari batu berwarna keabuabuan,. Kepala arca sudah hilang, duduk bersila di bantalan teratai ganda Buddha Akṣobhya,yang menempati arah mata angin sebelah timur

Arca Dhyani Budha Ratna Sumbhawa

Arca menggambarkan tokoh Dhyani Buddha Ratnasambhava, yang menempati arah mata angin sebelah selatan. Kepala arca sudah hilang, duduk bersila di bantalan teratai ganda. Ia adalah penguasa arah mata angin sebelah selatan.

Arca Losana

Arca Panduravasini

Wajah dan hiasan kepala arca gompel besar. Arca duduk bersila di bantalan teratai ganda. Pasangan atau istri Dhyani Buddha Amitabha yang menguasai arah mata angin sebelah barat.

Lokasi: Desa Tumpang. Kec. Tumpang. Kab. Malang.

CANDI SINGOSARI

Relief dan Arca

Yoni

Yoni berbentuk kubus dan pada bagian tengah terdapat lubang berbentuk persegi. Merupakan symbol dari kesuburan wanita

Arca Durga

Arca diwujudkan dalam bentuk wanita bertangan delapan, masing masing tangan kanan memegang ekor kerbau, tangan kiri memegang kepala figur dan 6 tangannya memegang senjata, cakram, pedang, anak panah, sangka/ kerang, perisai, kalung. Arca Durga Mahesasuramardhini, merupakan sosok wanita perkasa yang diciptakan oleh dewa. Durga diciptakan dengan tugas untuk mengalahkan raksasa Mahesasura, sosok raksasa berwujud kerbau yang tersohor akan kesaktiannya.

Arca Ganesha

Arca Ganesa diwujudkan dengan bentuk badan gemuk dan berkepala gajah. Ganesha adalah salah satu dewa yang populer dalam mitologi Hindu dan merupakan putera dari Dewa Siwa. Ganesha dikenal sebagai dewa pengetahuan, lambang kecerdasan, penghalau segala rintangan, dan pemberi kesejahteraan serta kebijaksanaan bagi para pemujanya.

Arca Agastya

Agastya adalah seorang resi dari India Selatan. Di dalam sejarah penyebaran Agama Hindu, Resi Agastya adalah sangat terkenal jasajasanya. Menurut pustaka Purana dan Mahabharata, dia lahir di Kasi (Benares) sebagai penganut Siwa yang taat. Ia disebut Batara Guru sebagai perwujudan Siwa di dunia mengajarkan dharma.

Arca Dwarapala

Sepasang Arca Dwarapala terletak sekitar 300 meter sebelah Barat dari Candi Singosari Dwarapala merupakan penjaga pintu besar candi. Kedua Dwarapala ini menghadap ke Candi Singosari, maka kedua penjaga tersebut haruslah menjaga “sesuatu” yang ada di belakangnya, apa ituIstana atau wihara yang dianggap sangat penting.

Arca Kendedes (Prajnaparamita)

Arca Prajñaparamita berukuran 1.26 m (Bernet Kempers,1959:75), duduk dalam sikap padmasana atau vajrasana(kedua kaki disilangkan dengan kedua telapak kakimenghadap ke atas.Mahkota yang dikenakannya berbentuk kiritamakuta yangmotifnya tidak didapat pada arca-arca lain. Merpakan arca perwujudan Kendedes.Ken Dedes adalah nama permaisuri dari Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel (Singhasari). Ia kemudian dianggap sebagai leluhur raja-raja yang berkuasa di Jawa, nenek moyang wangsa Rajasa, trah yang berkuasa di Singhasari dan Majapahit

Lokasi: Desa Candirenggo. Kec. Singosari. Kab. Malang.
Diperkirakan dibangun tahun 1300 M.