SITUS SENDANG DUWUR DI KABUPATEN LAMONGAN

0
3060

SK Menteri NoPM.56/PW.007/MKP/2010

No Reg Nas : RNCB.20151221.04.000103
SK Penetapan : SK Menteri No.247/M/2015

Peringkat Cagar Budaya : Nasional
Kategori Cagar Budaya : Situs
Kabupaten /Kota : Kabupaten Lamongan
Nama Pemilik : Negara
Nama Pengelola : Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto wilayah kerja
Provinsi Jawa Timur sebagai Unit Pelaksana Teknis Dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Luas Situs : 11.936 m².

http://kisahwali9.blogspot.com/2016/12/rahasia-kisah-sunan-sendang-duwur.html

Diskripsi Situs :
Sendang Duwur merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas 3 halaman bertingkat, dengan bangunan masjid terdapat pada tingkat tertinggi. Situs Makam Sunan Sendang Duwur ini berada di atas Bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran. Bangunannya sangat unik, merupakan perpaduan arsitektur Islam dan Hindu, terdiri dari gapura depan yang mirip Tugu Bentar, dan bagian dalamnya berbentuk paduraksa. Makam-makam kuno terdapat pada halaman-halaman bertingkat tersebut. Setiap halaman dibatasi dengan pintu gerbang yang bertipe candi bentar dan kori agung Komplek makam Sunan Sendang Duwur terbagi dalam beberapa halaman yang berada di sebelah Utara dan Barat Masjid Sendang Duwur. Tiap-tiap halaman dibatasi oleh pagar dengan pintu gerbang sebagai jalan masuknya. Secara umum komplek makam ini dibagi menjadi 4 halaman dengan pola tata letak tersusun ke
belakang dengan makam tokoh utamanya (Sunan Sendang) berada di halaman III (paling belakang).
Halaman I
Halaman ini dibagi lagi menjadi 2 halaman yang lebih kecil dengan dibatasi sebuah lorong yang berpagar di sisi kanan-kirinya. Berdasarkan peta dalam buku Islamic Antiquities of Sendang Duwur (1975), dihalaman ini terdapat 3 buah bangunan pintu gerbang. Ketiga pintu gerbang tersebut adalah pintu gerbang G, pintu gerbang F dan pintu gerbang E. Pintu gerbang G dan F merupakan jalan masuk menuju halaman I, dan pintu gerbang E sebagai jalan masuk ke halaman II. Bentuk ketiga pintu gerbang
ini cukup unik dan menarik dimana pintu gerbang F berbentuk Candi Bentar dan bentuk pintu gerbang memiliki sayap pintu dengan ornamen kerawangan motif roset serta terdapat pula motif stiliran Kepala Kala pada sisi depan pintu. Sedangkan Pintu Gerbang E, terdapat hiasan flora dan stiliran Kepala Gajah. Pada bagian yang tersisa itu ada hiasan flora dan stiliran kepala gajah. Dahulu pintu gerbang ini mempunyai sayap dalam bentuk naturalis seperti sayap burung ketika burung terbang.

Halaman II
Halaman II komplek makam Sendang Duwur ini disekat-sekat lagi menjadi beberapa halaman yang lebih kecil, dibatasi oleh pagar dengan pintu gerbang sebagai jalan masuk. Di halaman ini ada 2 pintu gerBang, yaitu pintu gerbang D dan pintu gerbang B. Terdapat ornamen dominan pada Pintu Gerbang D ini berupa ornamen motif geometris yang berbentuk segiempat, segitiga dan bentuk trapesium. Sedangkan Pintu Gerbang B, bentuknya menyerupai paduraksa yang dihias dengan ornamen motif roset dan flora serta terdapat pula ornamen Kala pada bagian depan ambang pintu

Halaman III
Halaman ini tepatnya berada disekita sisi barat Masjid Sendang Duwur. Dihalaman ini tersebut terdapat makam tokoh utama yaitu makam Sunan Sendang (Raden Nur Rahmad) yang diperkirakan sebagai pendiri pertama Masjid Sendang Duwur. Makamnya berdiri di atas teras dan di beri pelindung bangunan beratap (cungkup). Pada teras cungkup tersebut terdapat bingkai dari batu yang mempunyai hiasan relief motif flora.
Sebelum masuk ke cungkup sebelah selatan ada pintu gerbang bentuk candi bentar yang mempunyai semacam sayap. Dibawah sayap terdapat panil-panil hiasan motif flora dengan garis-garis kreatif dan motif-motif tumpal. Di depan pintu gerbang ini dahulu terdapat dua buah patung singa dari kayu yang kini tinggak bekas kakinya saja, 2 buah patung singa tersebut dibawa ke Museum Nasional Jakarta. Selain itu pada sisi
depan pintu gerbang ini terdapat hiasan motif flora dan motif bunga.

Halaman IV
Halaman ini sebagian besar berada di sebelah Selatan Masjid Sendang Duwur. Untuk masuk ke halaman ini dapat melewati seuah jalan sempit diantara tumpuan batu yang memisahkan halaman IV dengan halaman II dan halaman III yang ada di sebelah barat Masjid Sendang Duwur. Halaman ini juga dapat dimasuki melalui pintu gerbang C yang ada di sisi selatan. Halaman ini juga disekat-sekat degan pagar yang terbuat dari bata
merah. Pada pagar dinding ini terdapat pilar-pilar yang di atasnya terapat bentuk candi laras yang kelihatan sederhana. Pintu gerbang ini menghadap ke Selatan berbentuk candi bentar terbuat dari batu putih. Arsiterturnya hampir mirip dengan pintu gerbang G dan pintu gerbang D.

Kekhasan Kepurbakalaan Sendang Duwur, yaitu :

  1. Dari segi keletakan, Kompleks Sendang Duwur terdapat di wilayah yang bertingkat dengan masjid yang bertingkat pula.
  2. Memiliki bentuk-bentuk kori agung yang berupa gapura bersayap yang tidak dijumpai di situs kepurbakalaan Islam lainnya. Bentuk ini melambangkan perjalanan arwah menuju Sang Khalik.
  3. Ornamen pada gapura bersayap tersebut masih melanjutkan tradisi seni hias Hindu-Buddha dengan digambarkannya Kepala Kala di ambang pintu yang menyambung dengan bingkai mrga di kanan-kirinya.
  4. Bentuk atap gapura bersayap menyerupai Mahkota dan dipahatkan juga dalam bentuk relief rendah Kepala Garuda, sementara itu sayap gapura yang merentang di kanan-kiri celah pintu seakan-akan bentuk sayap Burung Garuda itu sendiri.

Masjid Sendang Duwur

Masjid ini berbentuk persegiempat dengan arah hadap ke timur. Bangunan ini terbuat dari susunan bata dan kayu, beratap tumpang tiga susun, dan terdapat sebuah mustaka di puncak atap. Masjid ini memiliki ruangan utama berukuran 256 mÂ2 yang dibatasi oleh empat dinding, ditopang oleh 17 tiang (satu tiang di tengah dan empat tiang masing-masing di sisi utara, timur, selatan, dan barat). Pada ruangan utama masjid terdapat maksurah, mihrab dan sebuah mimbar yang terbuat dari kayu. Serambi masjid terdapat pada keempat sisi ruang utama, yaitu: serambi timur, utara, barat, dan selatan. Pada keempat serambi terdapat 28 tiang berbentuk bulat. Di dalam serambi timur terdapat satu buah bedug yang disanggah oleh rangka kayu.

Di papan yang tergantung di balok serambi masjid terdapat tulisan huruf Jawa, memuat candra sengkala berbunyi gunaning sarira tirta hayu, berarti 1483 ? atau 1561 M. Di bawah papan tersebut bergantung papan yang lebih besar bertuliskan huruf dan kalimat Arab yang menyatakan bahwa masjid ini dibina pada tahun 1483 Jawa dan tahun 1851. Angka tahun yang dipahatkan pada penghias cungkup makam, oleh stutterheim dibaca dari kanan ke kiri 7051 (1507 Saka = 1585 M), menunjukkan tahun
wafatnya Sunan Sendang.

Sosok Sunan Sendang Duwur
Sunan Sendang Duwur (lahir tahun 1520 – meningggal tahun 1585) adalah seorang tokoh yang turut berperan dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Nama aslinya adalah Raden Noer Rohmat. Ia adalah putra Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid dari Baghdad yang terdampar di wilayah perairan Sedayu Lawas, saat melakukan perdagangan dan berdakwah. Di Sedayu Lawas Abdul Kohar menikah dengan Dewi Sukarsih, putri Tumenggung Joyosasmito. Pernikahan itu dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Raden Nur Rahmad. Beberapa tahun kemudian terjadilah peperangan hebat antara Kadipaten Sedayu Lawas dengan Kadipaten Tuban. Dalam pertempuran Sedayu Lawas melawan Kadipaten Tuban mengakibatkan wafatnya Syekh Abdul Kohar. Hal ini mengakibatkan Dewi Sukarsih prihatin dengan keselamatan anaknya. Kemudian beliau membawanya ke wilayah Sendang Duwur.
Di sinilah memulai kehidupan baru, Selain bercocok tanam, untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Raden Noer Rahmat melakukan dakwah kepada masyarakat sekitar. Walau masyarakat pada zaman itu mayoritas beragama Hindu, tetapi hal itu bukan penghalang bagi Raden Noer Rahmat untuk menggungkap kebenaran Islam. Kegiatan dakwahnya hingga akhirnya terdengar oleh Sunan Drajat. Kemudian Sunan Drajat mendatangi Raden Noer Rahmat guna melakukan silaturahmi sebagai sesama muslim dan mengingat banyak masyarakat yang mengaji kepada cucu sultan dari Bagdad itu, akhirnya Raden Noer Rahmat mendapat julukan Sunan Sendang. Setelah Raden Noer Rahmat menjadi Sunan, atas petunjuk Sunan Drajat dan Sunan Kalijaga pada tahun 1530, Raden Noer Rahmat ditugaskan untuk mendirikan masjid dan supaya ke Mantingan, Jepara, Jawa Tengah untuk menemui Mbok Randa Mantingan (Nyai Ratu
Kalinyamat, istri Sultan Hadirin.) guna membeli pendapanya seharga seyuto salebak ketheng (saketeng= 1⁄2 sen). Setelah masjid tersebut berdiri, di sekitar masjid kering tidak terdapat sumber air untuk berwudlu. Atas ijin Allah SWT maka diselatan masjid ada sebuah sumur Giling berkedalaman kurang lebih 35 m.
Beberapa sumber menggambarkan, dengan berdrinya masjid tersebut, syiar Islam yang dilakukan Sunan Sendang Duwur berkembang pesat. Ajaran Islam selalu disampaikan dengan cara-cara yang bijaksana. Dalam hasil penelitian Novita Siswayanti, ia menggambarkan bahwa Sunan Sendang Duwur merupakan salah seorang waliyullah yang peranannya disejajarkan dengan Walisongo dalam menyiarkan Islam di Tanah Jawa. Sunan Sendang berdakwah secara kultural mengakulturasikan budaya yang mentradisi di Desa Sendang Duwur dan menginternalisasikan nya dengan nilai-nilai Islam. Ajarannya tentang “mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu” (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu) hingga kini masih relevan yang berakulturasi dengan budaya setempat adalah tradisi selametan dan sedekahan yang diisi dengan pembacaan tahlil dan bancaan. Selain itu Masjid Sendang Duwur yang arsitekturnya vulnavular Joglo dan berakulturasi dengan budaya Hindu Jawa juga merupakan jejak dakwah kultural Sunan Sendang Duwur. Dalam dakwah kulturalnya, Sunan Sendang Duwur selalu menyampaikannya dengan penuh kedamaian dimana salah satu metode dakwahnya adalah tut wuri handayani lan tut wuri hangiseni. Peranan Sunan Sendang dalam dakwah kultural di Desa Sendang Duwur Paciran Lamongan, hingga kini ajaran dalam dakwahnya masih terimplimentasi dan diterapkan dalam kehidupan tradisi dan budaya masyarakat Sendang Duwur.

Sunan Sendang Duwur wafat pada tahun 1585 Masehi. Bukti wafatnya sang sunan dapat dilihat pada prasasti berupa pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Makam beliau kini bersandingan dengan Masjid yang terletak di atas bukit Amitunon (tempat membakar mayat penganut agama Hindu) Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Lamongan.

DAFTAR REFRENSI :

  1. Abdul Gani, Roeslan, Sejarah Sunan Drajat Dalam Jaringan Masuknya
    Islam di Nusantara, 2012, Lamongan: Badan Perpustakaan dan Arsip
    Daerah Kabupaten Lamongan
  2. Novita Siswayanti 2015, abstrak pada http://journal.uinjkt.ac.id
  3. Rasiyo, Peninggalan Makam-Makam di Jawa Timur, 2003, Jawa Timur: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur
  4. Tjandrasasmita, Uka, Islamic Antiquities of Sendang Duwur, 1984:
    Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
  5. Nursalim, Nlusuri Makam Kuna ing Sendang Duwur, 1995, Jawa Timur: Penebar Semangat
  6. Koenjaraningrat, Kebudayaan Jawa, 1997, Jakarta: Balai Pustaka
  7. Kompleks Sendang Duwur, dalam https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/,
    2020 Direktorat Perlindungan Kebudayaan
  8. Husnu Mufid, Rahasia Kisah Sunan Sendang Duwur, 2016, dalam
    http://kisahwali9.blogspot.com