GARUDEYA

0
10002
Sumber Instagrram (@rakaimatarama)

NARASI PADA RELIEF CANDI

Garudeya adalah sebuah mitos Hinduisme yang ada pada kalangan  masyarakat Jawa Kuno tentang perjuangan kebebasan. Cerita ini sangat popular di kalangan masyarakat Jawa saat itu sebagai cerita moral tentang pembebasan atau ruwatan Kesusastraan Jawa kuno berbentuk kakawin yang mengisahkan tentang perjalanan Garuda dalam membebaskan ibunya dari penderitaan perbudakan dengan penebusan air suci amerta. Dalam banyak kisah, Garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Sebagai kendaraan Wishnu, Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta.

Cerita tentang Garudeya juga ada pada candi di Jawa Timur yang lain yakni di candi Sukuh (lereng utara G. Lawu), sedangkan pada Candi Kidal di Jawa Timur, konon dipercaya bahwa relief mitos Garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat sang ibu “Ken Dedes”, ibunda yang sangat dicintainya. Cerita Garuda sangat dikenal masyarakat pada waktu berkembang pesat agama Hindu aliran Waisnawa (Wisnu) terutama pada periode kerajaan Kahuripan dan Kediri. sampai Airlangga, raja Kahuripan, setelah meninggal diwujudkan sebagai Dewa Wisnu pada candi Belahan dan Jolotundo, dan patung Wisnu di atas Garuda.

Pada candi Kidal , terdapat tiga relief Garudeya yang dipahatkan pada masing masing tiga paster tengah candi  dalam bentuk inti cerita yang mewakili tiga fase, yaitu :

  1. Fase Perbudakan

Relief pertama ini dipahatkan dalam bentuk Garuda sedang menyangga  3 ekor ular pada bahunya yang menggambarkan terjadinya   perbudakan  yang berawal dari kisah seorang guru bernama Resi Kasyapa yang memperistrikan Kadru dan Winata. Dari Kadru, Resi Kasyapa memperanakan Naga dan dari Winata memperanakan Garuda. Kadru selalu cemburu pada Winata dan melakukan berbagai cara agar Winata tersingkir dari keluarga mereka. Singkat cerita, Kadru dan Winata bertarung namun dalam hal ini Kadru berbuat curang sehingga dia menang dan menjadikan Winata sebagai budaknya.

2.Fase Penebusan agar terbebas dari perbudakan

Relief kedua ini dipahatkan dalam bentuk Garuda dengan kendi di atas kepalanya. Relief ini menggambarkan  Garuda yang sangat mengasihi sang ibu bertarung melawan Naga namun karena mereka sama-sama kuat maka pertarungan itu tidak kunjung usai. Sampai akhirnya Naga menyanggupi untuk membebaskan perbudakan Winata asalkan Garuda memberikannya Tirta Suci Amertha Sari, air yang dapat memberikan kehidupan abadi. Garuda pun berkelana mencari amertha sari agar  bisa membebaskan ibunya. Dalam perjalanan, Garuda bertemu dengan dewa Wisnu. Dewa Wisnu berjanji akan memberikan amertha sari pada Garuda asalkan Garuda mau menjadi tunggangannya. Garuda pun menyanggupi hal tersebut.  Perwujudan ini  terlihat ketika Raja Airlangga dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu, ia  digambarkan sedang menunggangi Burung Garuda yang dinamakan Garuda Wisnu Kencana. Garuda Wisnu Kencana ini lah yang akhirnya dijadikan sebagai simbol di Kerajaan Kahuripan, kerajaan di mana Raja Airlangga memerintah. Selain itu, Garuda sebagai kendaraan (wahanaWishnu juga terdapat di berbagai candi candi kuno di Indonesia, seperti PrambananMendutSojiwanPenataran.

3.Fase Kemerdekaan atau fase terlepas dari perbudakan.

Relief ketiga ini dipahatkan dalam bentuk Garuda menggendong seorang wanita,  yaitu ibunya “Winata” dan ini menggambarkan Fase Kemerdekaan dimana ibunya telah terbebas dari perbudakan dan sekaligus menggambarkan penghargaan kepada ibu pertiwi yang dijunjung tinggi dengan simbolik  diletakkannya winata diatas kepala Garudeya. Intinya cerita Garudeya itu adalah Bakti Garuda terhadap ibunya, yaitu untuk membebaskan ibunya dari cengkeram perbudakan.

Sikap garuda yang gigih dan tangguh dalam memperjuangkan kebebasan sang ibunda menginspirasi Soekarno untuk menjadikan Burung Garuda sebagai lambang negara agar ada semangat yang kuat untuk membebaskan ibu pertiwi dari para penjajah.

       Pesannya, yaitu bakti seorang anak terhadap ibu, dimanifestasikan sebagai bakti seseorang kepada pertiwinya, negaranya dan tanah airnya. Bakti itu diwujutkan dalam bentuk upaya yang berat, karena harus mengubah dari kondisi terbelenggu menjadi terbebas. Dalam konteks penjajahan dan kemerdekaan bangsa Indonesia, yaitu  bagaimana upaya bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan dari kolonialisme dengan upaya yang disebut Bakti Nagari atau Bakti Pertiwi.          

Pesan dari cerita Garudeya ini persis dengan pesan kemerdekaan, jadi narasinya Garuda itu merupakan Symbol Pembebas dari masa imperialisme dan kolonialisme. Oleh karena itu, pilihan Garuda Pancasila sebagai lambang Bangsa kita adalah tepat. Ada pesan pesan historis, filosofis yang relevan dengan ruang alam dan manusianya di bumi pertiwi ini. Ada pertimbangan yang sangat dalam dari unsur historis, filosofis dan yag paling penting ada pesan yang relevan dengan spirit kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak hanya pada situasi dan kondisi saat itu saja, bahkan sampai sekarangpun sebenarnya masih relevan.

DAFTAR  PUSTAKA :

  • Jan Fontein, R. Soekmono, Edi Sedyawati (1990), Sculptured of Indonesia, National Gallery of Art, ISBN 0-89468-141-9.
  • Moelyono, S (1979), Negarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, Djambatan.
  • Dinas Pariwisata Daerah Tk. I Jawa Timur (1992), 700 Tahun Majapahit.
  • Archipelago, Monthly Tourism Magazine, First Edition, 1995
  • Anusapati, Kompas, Maret 1983
  • M. Dwi Cahyono dalam Pesan Kemerdekaan Relief Cerita Garudeya Candi Kidal