Kapal Ijon-Ijon Lamongan

0
1305
photo by : https://lamonganoke.wordpress.com/2013/07/10/lamongan-juga-bisa-buat-kapal/

Terdapat beragam informasi mengenai sejak kapan budaya pembuatan kapal ijon-ijon mulai dikenal oleh masyarakat pesisir utara Lamongan, tepatnya di wilayah Desa Kandangsemangkon Kecamatan Paciran, terlebih sejumlah daerah di wilayah Pantai Utara Jawa juga memiliki kebudayaan dalam             pembuatan kapal tradisional. Industri Galangan Kapal Tradisional di wilayah Desa Kandangsemangkon, masih menggunakan metode pengerjaan yang telah  diwariskan oleh para pendahulunya, dimana hampir semua galangan kapal        tradisional di desa ini memiliki karakter yang hampir sama antara lain:

1. Pembuatan kapal dilakukan tanpa    perencanaan terlebih dahulu, akan tetapi merupakan kebiasaan dan keahlian yang dipelajari secara turun temurun, alami dan berdasarkan pegalaman. Tidak ada pelatihan dan pendidikan khusus (formal) yang mereka ikuti.
2. Penggunaan peralatan sangat sederhana, kurang memanfaatkan teknologi modern.
3. Merupakan usaha individu sehingga  kurang memperhatikan struktur organisasi, mereka saling percaya satu sama lain.
4. Pemilihan lokasi dekat pantai untuk mempermudah peluncuran.
5. Tersedianya komunikasi dan listrik.
6. Peluncuran dilakukan dengan cara ditarik oleh banyak orang.
7. tersedianya landasan peluncuran atau prengsengan.

. Perahu Ijon-ijon terdiri dari beberapa bagian, antara lain: lunas, linggi depan, linggi belakang, papan-papan (pengapit/serangan, jangpat, moludan, gedog, sabok, tambi, tingkem), nonong, sambung lanur, tembung usuk, tiang besar, tiang ogek, sanggem, penurut, cawang, peradan dan barongan, sementara untuk bahan utama untuk pembuatan Perahu Ijon-ijon, sekarang mengalami sedikit perubahan. Pada zaman dahulu bahan baku utama terdiri dari 90 persen kayu jati, sehingga produk masa itu dapat bertahan hingga 15 tahun atau lebih. Sekarang pembuatan perahu umumnya menggunakan bahan kayu campuran, seperti kayu jati, ulin, mahoni, akasia, asem londo, mimbo, dan nangka, sehingga produk sekarang memiliki kualitas yang kurang bagus, sehingga hanya mampu bertahan sekitar 7 tahunan. Bahan baku kayu tersebut didatangkan dari         sejumlah daerah, seperti Lamongan, Tuban, Bojonegoro dan Randublatung