Darah Pejuang di Tumpak Rinjing

0
1356

Oleh : Pandan Raditya Arundhati

17 Agustus 2018. Matahari pagi berarak memancarkan sinar hangat di kompleks Monumen Jenderal Sudirman di desa Sobo, Pakis Nawangan, Pacitan. Cahaya itu merambah di tegak patung Pak Dhe. Ya, Pak dhe, panggilan akrab orang-orang kampung terhadap Sang Jenderal Besar Sudirman. Banyak pula yang memanggilnya dengan sebutan Pak Dirman. Pandang mataku angslup1 dan lelap kala menatap gagahnya Pak Dirman. Matanya menyala. Memancarkan bara heroik dan menyusup jauh hingga ke relung batin dan jiwaku. Tanpa sebuah komando. Tiba-tiba saja aku mengangkat tangan untuk menghormat pada patung Sang Pemimpin Gerilya pada masa perang semesta di tahun 1948-1949 dalam menghadapi agresi Belanda. Sungguh luar biasa!

              “Tak ada kata lain yang bisa aku ucap padamu Jenderal. Engkau memang perkasa.” gumamku dengan bibir bergetar.

               “Mengenang perjuangan beliau tidak cukup sebatas berdiri di hadapan patungnya saja teman.” Bisik seseorang dari belakangku. Ia langsung menunjukkan tempat gambar bersejarah. Oh, Ragil. Seorang sahabat yang telah memutuskan diri untuk menjadi juru penerang bagi pengunjung kompleks monumen Jenderal Sudirman. Bahkan, Ragil merupakan cucu dariseorang bayan di Dusun Sobo, yang bernama Karsosoemitro, yang konon dikabarkan sebagai pemilik rumah gerilya yang dijadikan markas Pak Dirman selama 3 bulan 28 hari atau 107 hari.

              Tak jauh dari patung itu, Ragil menunjukkan gambar-gambar relief yang menceritakan tentang kisah perjalanan hidup Pak Dirman hingga memimpin perang dari Rumah Gerilya di Dusun Sobo, Desa Pakis, Kecamatan Nawangan Pacitan.

              “Lihatlah gambar relief pertama itu!” seru Ragil sambil menunjuk relief yang terletak di barisan utama itu.

              Aku mencoba menembus makna yang terkandung dalam relief tersebut.

              “Begini kisahnya..,” lanjut Ragil membuyarkan konsentrasiku. Bak seorang sejarahwan ia mulai menjelaskan dengan runtut.

***

              Pagi itu, 19 Desember 1948 Jogjakarta menjadi lautan darah. Pesawat tempur Belanda, Cocor Merah, terbang liar menderu deru! Seluruh rakyat tercengang. Anak-anak ketakutan. Jerit tangis bayi digendongan ibunya terus melengking. Para prajurit TNI yang siaga segera bersiap diri. Tak begitu lama. Ibu kota porak-poranda. Dengan beringas dan bengis, dengan jiwa yang biadab, Pasukan Baret Merah Belanda yang tergabung dalam Operasi Gagak pimpinan Jenderal Spoor telah memborbardir dengan pesawat Mustang dan tembakan membabi-buta. Di lapangan bandara Maguwo gugurlah 128 prajurit TNI yang nyaris tak bersenjata.

              Di kisah pembuka itu mataku menyala. Tak kuasa menahan emosi. Aku tak kuasa membayangkan derita anak-anak dan para ibu yang ketakutan. Belum sempat aku menguasai emosi itu, Ragil melanjutkan kisah pada gambar relief berikutnya. Kisah yang menderah banyak penderitaan Jenderal Sudirman. Air mataku mengalir.

              “Waktu itu seluruh pejabat negera:Presiden Soekarno beserta wakilnya Moh. Hatta dan beberapa menteri negara telah ditangkap. Tetapi Jenderal Soedirman menolak takluk pada Belanda. Ia pun bertekad melawan dengan cara bergerilya,” jelas sambil mengepalkan tangan.

              Tampak sekali kalau narasi-narasi itu sudah melekat kuat di ingatan dan semangat juangnya.

              “Bagaimana cara beliau melawan? Bukankah waktu itu Pak Dirman dalam kondisi sakit?” selaku dengan rasa geram.

              “Beliau seorang pemimpin. Panglima Perang Jenderal Besar TNI pertama. Meski dengan paru-paru sebelah, dan tubuh masih sempoyongan, jiwa patriotiknya tidak pernah luluh,” jawab Ragil. Lalu ia diam sejenak. Mengubah gesture dan karakter vokal ala Pak Dirman seperti yang ada di relief.

              “Ibu kota negara boleh jatuh. Presiden boleh ditawan. Tapi TNI tidak akan pernah menyerah.” Ragil benar-benar fasih mengekspresikan vokal dan pernyataan Pak Dirman kala memutuskan perang gerilya kepada anak buahnya.

              Bak seorang aktor monolog. Ia bergeser blocking menyesuaikan alur dari skenario gambar dari beberapa relief.  Ragil sempat berdiri lama di salah satu relief yang penuh gambar rumah. Menarik nafas dalam. Matanya mulai memerah. Ternyata relief itu berisi kisahkenangan eyang kakungnya, yang menjadi prajurit utama Jenderal Sudirman.

***

1 April 1949. Sang Jendral tiba Dusun Sobo, Desa Pakis, Kecamatan Nawangan,  Pacitan. Ditempuhlah perjalanan panjang sejauh 97 km dengan rute keluar masuk hutan Pacitan. Suatu Pagi, terdengar seorang prajurit mengetuk pintu kamar Pak Dirman. Prajurit yang dipanggil Soesromitro itu  telah mendapatkan kabar kalau ada kiriman bala bantuan Tentara Belanda dari Solo ke arah Pacitan. Dikabarkan pula kekuatan bala bantuan tersebut: dua truk lebih berisi 50 KNIL, dua panszer-wegen, bahan pangan sebagai persedian, dan dilindungi dua pesawat pemburu Cocor Merah, sedang memburu Pergerakan laskar gerilya yang beliau pimpin terang Kapten Soesromitro.

Mendapat laporan penting tentang pergerakan dan kekuatan  Belanda, Pak Dirman segera mengumpulkan prajurit ahlinya. Ia susun strategi. Hasilnya melakukan penghadangandi daerah Tumpak Rinjing, Loh Denok, dan sekitarnya. “Jalankan siasat penghadangan dengan cara memasang truk bom di daerah jalan Tumpak Rinjing. Lokasi ini sangat strategis untuk melakukan penghadangan. Hari itu, Selasa, 7 Juni 1949. Pukul 9:30 pagi, terjadi pertempuran sengit melawan tentara Belanda di daerah Tumpak Rinjing Kecamatan Pringkuku. Pasukan Belanda hancur lebur. Air mata, keringat, darah, dan nyawa pejuang bersama rakyat setempat akhirnya memenangkan pertempuran itu.

***

“Kisah dari peristiwa itu sampai kini lebih dikenal sebagai peristiwa palagan Tumpak Rinjing,” Pungkas Ragil sambil menahan sesenggukan tangisnya. Dan terakhir kali ia mencium gambar wajah eyang kakungnya di relief Palagan Tumpak Rinjing tersebut.