Berbagai Situs Pertirtaan di Jawa Timur

0
2680

berikut kami lampirkan beberapa Pertirtaan di wilayah Jawa Timur

1. Pertirtaan Sumber Beji, Jombang
Situs cagar budaya di sendang Sumberbeji, Jombang dipastikan sebuah petirtaan suci. Pembuatan bangunan purbakala ini diperkirakan pada masa pemerintahan Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi dipastikan saluran yang ditemukan ternyata merupakan bagian dari pertirtaan (pemandian). Petirtaan suci ini diperkirakan dibangun pada zaman Majapahit. Prediksi ini didukung temuan gerabah, porselin, dan koin kuno di area situs Sumberbeji .

Disamping itu air kolam ini juga dipercaya membuat awet muda bagi yang mempercayainya

2. Pertirtaan Komplek Candi Penataran, Blitar
Sekilas sejarah Candi Penataran, candi ini ditemukan oleh Dr. Horsfield pada tahun 1815 seperti yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada buku History Of Java. Candi ini dibangun secara bertahap mulai abad 12 s/d 15 M sehingga proses pendiriannya melewati tiga fase kekuasaan kerajaan yaitu Kediri, Singasari, dan Majapahit. Candi ini fungsinya sebagai tempat pemujaan. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan pada prasati Negarakertagama yang menyebutkan bangunan suci Palah (Penataran) merupakan bangunan Dharma Ipas yaitu bangunan suci para Rsi Saiwa-Sugata yang didirikan di tanah wakaf sebagai tempat pemujaan. Di tingkatan teratas candi induk
dapat melihat seluruh area kompleks Candi Penataran termasuk kolam pertirtaan yang terletak di luar halaman ketiga.

3. Pertirtaan Candi Tikus, Mojokerto
Candi Tikus terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi Tikus merupakan bagunan pertirtaan. Di sebelah timur laut dan barat laut bangunan induk terletak dua bangunan yang berbentuk kolam dan disebut “kolam barat” dan “kolam timur”. Kolam yang berada di kanan dan kiri tangga masuk ini masing-masing berukuran panjang 3,50 meter, lebar 2 meter, tinggi, 1,50 meter dan tebal dinding 0,80 meter. Pada sisi utara dinding kolam bagian dalam terdapat tiga jaladwara dengan ketinggian kurang lebih 80 cm dari lantai kolam. Bagian luar kolam (sisi selatan) terdapat tangga masuk ke bilik kolam yang lebar 1,20 meter. Di bagian dalamnya terdapat semacam pelipit setebal 3,50 cm. Kemudian, di atas dan bawah tangga masuk sisi timur ada dua saluran air.

4. Pertirtaan Jolotundo, Mojokerto
Konon Petirtaan ini dibuat untuk menyongsong lahirnya raja Airlangga, putra raja Udayana yang berasal dari Bali, yang menikah dengan putri Guna Priya Dharma (putri dari Mpu Sindok, raja Mataram Hindu) dari Jawa. Selain itu, menurut cerita yang berkembang, bangunan candi ini juga menjadi tempat pemandian para petinggi kerajaan pada masa itu. Dan ini bisa kita lihat melalui bangunan disebelah kiri terdapat bilik tempat untuk mandi pria, yang konon dulu sebagai tempat mandi raja, dan bilik sebelah kanan tempat mandi untuk perempuan. Keunikan Petirtaan Jolotundo ini adalah berkaitan dengan debet airnya yang tidak pernah turun meski pada musim kemarau sekalipun. Berdasarkan penelitian, air yang keluar dari Petirtaan Jolotundo ini merupakan air yang terbaik di dunia. Kenyataan ini terbukti setelah dilakukannya penelitian terhadap kandungan air yang ada dan ternyata memiliki kandungan mineral yang sangat tinggi.

5. Pertirtaan Sumber Tetek
Candi Sumber Tetek ini diduga merupakan pertirtaan (tempat mandi) yang dibangun untuk kedua permaisuri Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan, Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Candi ini memiliki dua patung, yaitu patung Dewi Sri dan patung Dewi Laksmi. Asal mula nama candi ini adalah karena salah satu patungnya, yaitu patung Dewi Laksmi, dapat mengalirkan air jernih dari teteknya. Oleh masyarakat setempat, air ini melambangkan kesuburan dan memiliki khasiat tertentu seperti dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat orang awet muda. Di Candi Sumber Tetek itu sebenarnya terdapat arca Wisnu menunggang garuda yang sekarang disimpan di Museum Purbakala Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Ada yang berpendapat bahwa Wisnu ini merupakan perwujudan Airlangga yang memang semasa hidupnya setia menganut Dewa Wisnu. Ada juga arca dan relief yang terletak pada susunan bata. Dari keterangan yang dilaporkan oleh peneliti bernama F. Stutterheim dari Belanda, Candi ini diduga dibangun pada abad ke-11.  (Theresa Sunjaya)