Situs Gua Suci

0
215
Dokumentasi : Bidang Cagar Budaya dan Sejarah

Gua Suci yang terletak di Dusun Suci, Desa Wangun Kecamatan Palang menurut cerita adalah tempat pertapaan raja Majapahit. Versi lain mengatakan gua tersebut terbentuk akibat batunya diambil untuk candi di Majapahit. Dinamakan Gua Suci tidak ada satu pun rujukan sejarah yang bisa menerangkannya. Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, Mojokerto kemungkinan nama Suci diberikan karena gua tersebut tempat bertapa para Raja dan petinggi kerajaan Majapahit. Gua Suci adalah salah satu dari empat gua yang dipakai raja-raja dan petinggi keraton di zaman Majapahit untuk bertapa. Tiga gua lainnya yang juga berfungsi untuk pertapaan Gua Selo Mangleng di Kabupaten Kediri dan Gua Pasir di Kabupaten Tulungagung.

Salah satu dari ciri ruang gua yang dipakai pertapaan raja dan petinggi kerajaan adalah bentuknya mengerucut ke atas. Bentuk kerucut merupakan simbol memusatnya penyembahan ke atas (Tuhan). Bentuk kerucut juga  untuk menyamai bentuk gunung yang diyakini tempat tinggal para dewa. Ciri yang lain ruang gua yang dipakai pertapaan raja adalah terpahatnya relief Arjuna Wiwaha di salah satu dinding gua. Relief ini menggambarkan sosok Arjuna yang tengah bertapa dan digoda dua bidadari. Relief Arjuna Wiwaha terpahat di salah satu ruang Gua Suci namun sekarang relief tersebut tertutup lumut dan debu.Gua Suci memiliki 50 ruang gua, semua bentuknya mengerucut ke atas. Persis di atas kerucut itu terdapat lubang yang lebarnya bervariasi.

Selain dinamakan Gua Suci oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Jurang Wayang karena dikaitkan dengan relief wayang yang terpahat di salah satu ruang gua. Selain versi nama masyarakat setempat juga punya ceritera berbeda tekait latar belakang gua yang lokasinya berjarak sekitar 7 kilometer (km) arah selatan pusat Kecamatan Palang. Kepala Desa Wangun, Kecamatan Palang Santoso mengatakan menurut ceritera tutur masyarakat setempat, bentuk ruang-ruang gua yang menyerupai piramid tersebut karena digali kemudian diusung ke Majapahit untuk dibuat candi. Bentuk kerucut atau pyramid di ruang-ruang gua itu sepertinya memang tidak terbentuk secara alami seperti gua pada umumnya, namun digali, sebagian besar dinding terlihat seperti diiris-iris dan berlapis. Irisan itu persis seperti bekas tambang batu kumbung pada umumnya. Ceritera tutur lain yang berkembang adalah salah satu bongkahan batu dari jurang wayang yang diusung ke Majapahit  jatuh di perbatasan Desa Kujung, Widang, Tuban dengan Desa Jabung Lamongan. Tempat jatuhnya batu yang dinamai Nglengor tersebut kemudian menyemburkan minyak.

Fakta sejarah lain yang diungkap Santoso di sekitar gua adalah berdirinya sebuah dam yang dibangun di zaman Belanda. Pada prasastinya, tertulis tahun pembuatan dam tersebut 1808. Tak jauh dari dam itu terdapat sebuah cekungan tanah menyerupai waduk. Kalau ditilik dari korelasi sejarah, sangat mungkin waduk memiliki kaitan sejarah dengan gua. Dam dibangun di zaman peradaban modern atau pada abad sesudahnya untuk memanfaatkan waduk yang sebelumnya sudah ada, benang merah gua dengan waduk inilah yang harus digali tim sejarah. Berdasarkan kajian sejarah, biasanya pada tempat-tempat pemujaan peradaban Hindu-Budha selalu ada kolam untuk bersuci.