Pada tahun 1854 Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun sebuah jembatan yang menghubungkan De Groote Postweg di Kediri. Awalnya desain yang diajukan seorang Kapten Zeni adalah jembatan dengan bahan dasar utama dari batu dengan total nilai pekerjan 128.891 Gulden. Setahun kemudian ketika pekerjaan dimulai terdapat pengajuan keberatan dari seorang insinyur kepala dari waterstaatafedeeling Soerabaia.
Keberatan tersebut disebabkan rancangan jembatan yang berbahan batu disinyalir akan mengakibatkan aliran sungai Brantas terhambat. Meski terdapat keberatan proyek ini tetap dilanjutkan hingga pada tahun 1859 pondasi penopang jembatan bagian barat selesai dikerjakan.
Tahun 1861 pemasangan paku bumi di tengah sungai Brantas dihentikan karena mengalami kesulitan teknis. Adapun dana pendirian jembatan yang telah dihabiskan rupanya melampaui dari anggaran yang direncanakan. Pada tahun 1862 terdapat rancangan desain alternatif untuk melanjutkan pembangunan jembatan dari Insinyur Sytze Westerbaan Muurling. Desain baru ini mencerminkan beberapa perubahan revolusioner di jamannya salah satunya dengan penggunaan bahan dasar utama dari besi.
Setelah beberapa kali terjadi kegagalan pemborongan proyek ini, akhirnya pada tahun 1865 pekerjaan pembangunan jembatan ini dapat dilanjutkan kembali dan direncanakan akan rampung dalam waktu dua tahun. Hanya saja karena beberapa masalah teknis, proyek ini mengalami keterlambatan dan baru bisa selesai pada tahun 1869.
Secara resmi jembatan ini dibuka untuk umum pada tanggal 18 Maret 1869. Jembatan ini mengilhami pengembangan ilmu arsitektur bangunan khususnya jembatan. Oleh karena itu warisan infrastruktur ini hendaknya selalu dijaga dan dilestarikan untuk anak-anak bangsa di kemudian hari.