Fosil Tenggorak Kepala Manusia Purba, Ngawi

0
1861
untuk tengkorak yang asli ada di museum Mpu tantular Sidoarjo

kondisi saat ini Fosil tengkorak manusia purba pada saat ditemukan dengan kondisi yang hampir seluruhnya utuh, termasuk sisi basisnya yang rusak bagian atap os ethmoidale dan sinus trontalis. Bagian splanchnocranium hanya tersisa sebagian kecil dari tulang hidung di daerah pangkal hidung pada os trontale. Keadaan basis neurocrium yang relatif utuh merupakan suatu hal yang istimewa pada tengkorak fosil, mengingat beberapa biasanya rusak karena struktur tulangnya merupakan sambungannya dan ditembus banyak lubang untuk syarat dan pembuluh darah. Rongga tengkorak atau cavum cranil tidak terisi matriks, sehingga kosong dan memungkinkan pengukuran volume otak tanpa kesulitan. Hasil pengukuran volume otak kiranya perlu dikoneks dengan penambahan 1 – 2 cc untuk kerak matriks tipis, yang melekat pada beberapa bagian dalam tulang neurocrium. Matriks yang berupa batuan sedimen berwarna abu – abu melekat sebagai kerak pada bagian dalam tengkorak, tetapi juga dibeberapa bagian luar tengkorak, yaitu di bagian atap kedua rongga mata yang dibentuk oleh os frontale, kemudian menutup juga semua formina pada basis cranil, kecuali formani bagian kanan.

Matriks kemudian menutup kedua meatus acustigus nus dan sebagian os accipitale. Pada planum nuchale bagian kanan tampak sebagian matriks telah terkupas rusak dengan tulang fosil yang baru terbuka tampak berwarna ini berbeda dengan warna tulang yang sudah berpatina coklat sampai coklat tua yang kilap, terutama di bagian ekstern calvarium.  Bagian luar calvarium tersebut memiliki banyak pangkal pertumbuhan gumpalan algae halus, kecuali bagian basis cranil. Tampaknya tengkorak sebelum ditemukan , sudah terkupas dari matriks tertentu di dalam air, sehingga memungkinkan pertumbuhan lumut air tersebut. Mengingat permukaan fraktur dengan splanchnocranium sudah usang dan daerah basis cranil  bebas pertumbuhan algae dan memperlihatkan tanda – tanda asahan yang ringan, maka fosil tersebut tampaknya terlepas dari matriksnya sekitar beberapa tahun yang lalu Pergolakan air yang ringan telah melindungi tengkorak dari benturan – benturan kuat, sehingga kedua tonjolan tipis pangkal arcus zygomaticus tertinggal relatif utuh dan fosil tersebut praktis bergeser dalam posisi tengkurap selamanya. Dengan nomor inventarisasi Museum Negeri Provinsi Jawa Timur : 02.21.