MENGENAL RADEN MAS TUMENGGUNG ARIO SOERJO GUBERNUR JAWA TIMUR PERTAMA

0
285

Raden Mas Soerjo adalah anak ke dua dari sepuluh bersaudara, lahir di Magetan pada tanggal 9 Juli 1898 beliau adalah seorang keturunan pegawai pamongpraja. Ayahnya yakni Raden Mas Wiryosumarto terakhir menjabat Wedana Punung, Pacitan, Jawa Timur. Ibu dari Soerjo adalah Raden Ayu Kustiyah Wiryosumarto yang adalah adik dari Bupati Madiun zaman Hindia Belanda Raden Ronggo Kusnodininggrat. Kakek Soerjo  dari pihak ayah adalah Raden Mas Wiryosukarto seorang Patih Magetan yang berasal dari Caruban, Madiun, Jawa Timur. Dari silsilah di atas akhirnya kita mengenal Soerjo bukanlah orang sembarangan Soerjo adalah seorang pemuda yang sudah terbiasa atau familiar dengan urusan rakyat.

Pada Tahun 1926 Raden Mas Soerjo menikah dengan Raden Ayu Mustapeni (puteri  sulung Raden adipati Ario Hadiwinoto yang saat itu menjabat sebagai Bupati Magetan Jawa Timur).

Pendidikan Soerjo adalah lulusan Opleidings School Voor Inladsche Ambtenaren disingkat O.S.V.I.A yaitu Sekolah Pendidikan Kepamongprajaan untuk pribumi/pemuda Indonesia pada masa Hindia-Belanda, pemuda Soerjo pernah juga mendapat kesempatan belajar Politie-School atau Sekolah Polisi di Sukabumi (Jawa Barat) dan pada Bestuursschool atau Bestuurs Academie atau Departemen Dalam Negeri di Batavia (Jakarta).

Karier Soerjo di Bidang Pemerintahan mulai saat beliau diangkat menjadi Gediplomeerd Inlandsch Ambtenaar di Ngawi Tahun 1918, sebagai Mantri Veldpolitie di Madiun, sebagai Asisten Wedana di Jetis, sebagai Wedana di Pacitan, sebagai Wedana Gedeg (Mojokerto), pada Tahun 1933 sebagai Wedana Porong (Sidoarjo), pada Tahun 1938 beliau menjabat sebagai Bupati Magetan, karena kecakapan dan dedikasi beliau pada tahun 1943 diangkat sebagai Syucokan (Residen) Bojonegoro Jawa Timur menjadi salah satu “Syu” (ada 17 Syu di Pulau Jawa, jabatan Syu setara dengan Gubernur yang kekuasaannya sama dengan Karesidenan) selanjutnya beliau diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur dan merupakan Gubernur Jawa Timur Pertama yang diangkat oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia (keputusan hasil sidang istimewa PPKI), diakhir hidupnya beliau bertugas sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (DPA).

Pada tanggal 18 Agustus 1945 sehari setelah kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan oleh Bapak Bangsa Indonesia Sukarno – Hatta,  Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) melaksanakan tugas membantu presiden melakukan sidang istimewa dan menghasilkan beberapa keputusan penting antara lain : Membentuk Kabinet Presidentil atau Kabinet Pertama Negara Republik Indonesia   19 Agustus 1945 – 14 Nopember 1945, Membagi wilayah Negara Republik Indonesia dalam 8 (delapan) wilayah provinsi sekaligus menunjuk Gubernurnya :

  • Gubernur Sumatera : Mr. Teuku Muhammad Hasan
  • Gubernur Jawa Barat : Mr. Sutarjo Kartohadikusumo
  • Gubernur Jawa Tengah : Mr. Raden Panji Suroso
  • Gubernur Jawa Timur : Mr. R.M.T.A Soerjo
  • Gubernur Sunda Kecil : Mr. I Gusti Ktut Puja
  • Gubernur Maluku : Mr. J. Latuharhary
  • Gubernur Sulawesi : Mr. Dr. G.S.S.J Ratulangi
  • Gubernur Kalimantan : Mr. Ir. Pangeran Mohammad Noor

Sejak dilantik sebagai Gubernur Jawa Timur (19 Agustus 1945) RMTA Soerjo masih tetap berkedudukan di Bojonegoro. Pada tanggal 12 Oktober 1945 barulah beliau berangkat ke Surabaya dengan diantar oleh wakil-wakil Komite Nasional Indonesia Bojonegoro untuk memangku jabatan baru beliau sebagai Gubernur Jawa Timur yang pertama (1945 – 1948) Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sebagai pemimpin umum perjuangan di Soerabaya tugas Gubernur Soerjo semakin berat meggelorakan semangat juang dan menanamkan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang setiap saat dironrong oleh para penjajah untuk berkuasa kembali. Pada tanggal 25 Oktober 1945 Inggris mendarat di Surabaya di bawah pimpinan Jenderal Inggris Mallaby, Gubernur Soerjo melakukan perjanjian gencatan senjata dengan pihak Inggris namun gagal  mengakibatkan kematian Jenderal Mallaby, akhirnya Inggris di bawah pimpinan Jenderal Mansergh mengultimatum rakyat Surabaya yang memiliki senjata harus menyerahkan senjatanya ke pasukan Inggris pada tanggal 9 November 1945 apabila tidak dilaksanakan maka keesokan harinya yaitu yanggal 10 November 1945 Surabaya akan hancur. Malam tanggal 9 November 1945 pukul 23.00 WIB sebagai Gubernur yang diangkat dan diberi mandate oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia sebagai pimpinan perjuangan rakyat Jawa Timur, maka RMTA Soerjo berpidato di Radio Surabaya yang terletak di bekas Gedung NIROM Jalan Embong Malang No.87 Surabaya. Pidato yang dikenal dengan nama Komando Keramat Soerjo mengatakan akan melawan Inggris sampai titik darah penghabisan dengan menyerukan bahwa Arek-arek Surabaya akan melawan ultimatum  Inggris sampai darah penghabisan tidak ada keraguan telah ada keputusan , ada kepastian, ada tekad LAWAN. Maka pertempuran rakyat Jawa Timur melawan pasukan Inggris meledak pada tanggal 10 November 1945.

Setelah pertempuran arek-arek Surabaya dengan pasukan Inggris  selama 3 hari Surabaya senyap seolah-olah kota mati, akhirnya Gubernur Soerjo meninggalkan Surabaya dan membangun pemerintahan darurat di Mojokerto.

Tanggal 12 Oktober adalah cikal bakal hari lahir Jawa Timur.

Provinsi Jawa Timur menerbitkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor : 6 Thun 2007 tentang Hari Jadi Provinsi Jawa Timur yang menetapkan 12 Oktober sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Timur.

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional  pada 17 November 1964 atas Kepres No,294 Tahun 1964.

—–

Sumber :

” Pahlawan Nasional Gubernur Suryo, Suthiatiningsih, Dra, 1977.

Biografi tokoh ternama. Blogspot.com

Menggali (Kembali) Jejak Sejarah Gubernur Soerjo, FGD Gubernur Soerjo, Muries  Subiyantoro, 2022