VILLA BIMA SAKTI DI KOTA BATU

0
439

Kota Batu menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan era Presiden Soekarno. Kala bangsa menghadapi invasi Jepang pada tahun 1942, Soekarno bertapa 15 hari di Kota batu, tepatnya di VILLA BIMA SHAKTI, kompleks Taman Wisata Selecta. Di pintu salah satu kamar Vila Bima Shakti tertempel angka nomor 47. Interior dan bentuk kamar berukuran 5×5 meter itu masih gaya etnik klasik. Ruangan di Vila Bima Shakti yang dibangun pada tahun 1930. Lokasi Villa yang dulu bernama Villa De Brandarice tersebut berada di ketinggian 1.150 meter di atas permukaan laut. Kamar yang pernah ditinggali Soekarno. Kamar itu sangat bersejarah karena pernah jadi saksi bagaimana Bung Karno menuangkan ide-ide untuk kepentingan bangsa dan  Negara. Soekarno menginap di Villa Bima Shakti selama 15 hari. Saat itu masih dikuasai Jepang. Bangunan ini menjadi bangunan keempat yang didirikan kala itu. Nama asalnya De Brandarice, di bawah pengelolaan Hashiguci. Kunjungan pertama Sang Proklamator terjadi pada tahun 1942. Kunjungan kedua pada tahun 1946. Kali ini dia membawa anak, istri, dan juga para pejabat pemerintahan. Bermula dari kunjungan itulah nama Bima Shakti muncul dan dipertahankan hingga sekarang. Dari data sejarah, kala itu ada agenda Soekarno hadir pada Sidang Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI) DI Gedung Rakyat Kota Malang. Gedung itu kini jadi Sarinah Store. Namun karena banyak pertimbangan Soekarno batal menghadiri Sidang Pleno KNPI dan digantikan Wakil Presiden RI Moch Hatta juga menginap di Villa Bima Shakti tersebut. Begitu bersejarahnya kamar di Villa tersebut karena dua proklamator negeri ini Soekarno-Hatta pernah menginap di villa tersebut. Saking terkesannya denga Villa tersebut, Soekarno dengan tulisan tangan menuliskan kalimat dengan arti mendalam dengan ejaan lama. Kenang-kenangan pada Selecta tetap hidup dalam ingatan saja, Bukan karena tamasja jang indah, tetapi djuga karena di Selecta itu beberapa putusan penting mengenai perdjoeangan Negara telah saja ambil. Tercatat, tulisan tangan Bung Karno itu ditulis pada tanggal 1 Maret tahun 1955. Naskah bersejarah itu pun sampai kini terawatt rapi dalam pigura yang terpajang di Villa tersebut. Kami menjaga bentuk keseluruhan dan beberapa peninggalannya karena nilai sejarah yang sangat patut untuk dihargai.