SANDYAKALANING MAJAPAHIT MENURUT BABAD JAWA DAN HISTORIOGRAFI KOLONIAL (Sri Margana)

0
3251

Pengantar
Tidak ada kerajaan di Nusantara yang dianggap begitu berpengaruh dalam dunia maritim Asia Tenggara kecuali Majapahit. Kerajaan ini dinilai berhasil menggabungkan dua sistem ekonomi, yaitu agraris dan maritim. Banyak penulis yang menjadikan Majapahit sebagai epitome atau model peradaban Maritim Nusantara sekaligus sebagai embrio unitary state (negara kesatuan) dengan sistem pemerintahan dan ketatanegaraannya yang khas.[1] Eksistensi kerajaan ini berlangsung kurang lebih tiga abad (abad XIII – XVI) dan di masa puncak kejayaannya digambarkan telah menguasa wilayah yang sangat luas dari Papua di perbatasan Samudera Pasific hingga Madagaskar di Samudera Hindia.[2] Majapahit juga telah menginspirasi beberapa pemikiran tentang identitas budaya dan kebangsaan dari bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu hingga Kamboja memiliki asosiasi yang kuat dengan kerajaan Majapahit.[3] Cerita tentang kebesaran kerajaan Majapahit barangkali telah menjadi tradisi historiografi terpanjang di Indonesia. Sejak Prapanca menuliskan Negarakertagama di sekitar pertengahan abad ke-14, para penulis sejarah Jawa dari abad ke-18 dari istana Mataram juga mereproduksi kembali kebesarannya. Bahkan, Majapahit dijadikan sebagai legitimasi dengan cara menghubungkan secara genealogis anatara raja-raja Majapahit dengan raja-raja Islam Mataram.[4] Tentu saja menarik kemudian untuk mengetahui bagaimana Mataram sebagai


[1] Lihat misalnya kajian tentang Majapahit dari aspek maritim yang dilakukan oleh, Irawan Joko Nugroho, Majapahit, Peradaban Maritim, Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia, Jakarta: Suluh Nuswantara Bhakti, 2011, dan dari sisi pemerintahan dan ketatanegaraan lihat, Megandaru W. Kawuryan, Tata Pemerintahan Negara Kertagama Kraton Majapahit, Jakarta: Panji Pustaka, 2006.

[2] Slamet Muljana, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1979, khususnya Bab V, hlm. 141-154.

[3] Lihat misalnya tulisan Ahmad Noor A Noor, From Majapahit to Putrajaya: Searching for Another Malaysia, Michigan. Silverfishbooks, 2005. Sementara itu dalam historiografi nasional Kamboja, ada suatu periode khusus yang disebut “Masa Penjajahan Jawa” yaitu merujuk pada periode kekuasaan Majapahit.

[4] Mengenai tradisi dalam historiografi tradisional Jawa dari masa kerajaan Hindu hingga Islam lihat C.C. Berg, Penulisan Sejarah Jawa, Jakarta: Bhratara, 1974.

_____________________________
[1] Lihat misalnya kajian tentang Majapahit dari aspek maritim yang dilakukan oleh, Irawan Joko Nugroho, Majapahit, Peradaban Maritim, Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia, Jakarta: Suluh Nuswantara Bhakti, 2011, dan dari sisi pemerintahan dan ketatanegaraan lihat, Megandaru W. Kawuryan, Tata Pemerintahan Negara Kertagama Kraton Majapahit, Jakarta: Panji Pustaka, 2006.[2] Slamet Muljana, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, Jakarta: Bhratara Karya Aksara, 1979, khususnya Bab V, hlm. 141-154.

[3] Lihat misalnya tulisan Ahmad Noor A Noor, From Majapahit to Putrajaya: Searching for Another Malaysia, Michigan. Silverfishbooks, 2005. Sementara itu dalam historiografi nasional Kamboja, ada suatu periode khusus yang disebut “Masa Penjajahan Jawa” yaitu merujuk pada periode kekuasaan Majapahit.

[1] Mengenai tradisi dalam historiografi tradisional Jawa dari masa kerajaan Hindu hingga Islam lihat C.C. Berg, Penulisan Sejarah Jawa, Jakarta: Bhratara, 1974.

kerajaan Islam melalui para para pujangganya, menggambarkan tranformasi politik dari kerajaan Majapahit (Hindu) ke Demak (Islam)?

Glorifikasi tentang Majapahit tidak berhenti sampai di situ, karena historiografi kolonial yang dirintis oleh para sejarawan Belanda juga melakukan hal yang sama. Muncul kemudian mengapa sejarawan kolonial memiliki minat yang besar terhadap sejarah Majapahit? Adakah idiologi atau kepentingan tertentu di balik glorifikasi ini? Pertanyaan yang sama seperti yang ditujukan pada sejarawan Jawa itu juga dapat diajukan pada para sejarawan kolonial ini, yaitu bagaimana mereka memaknai runtuhnya kerajaan Hindu Majapahit dan berdirinya keraja-kerajaan Islam di Jawa?

Untuk memahami juga sejauhmana kajian-kajian dan kesimpulan-kesimpulan mereka berpengaruh terhadap historiografi Indonesia maka perlu pula diajukan pertanyaan apakah legacy (warisan) yang telah ditinggalkan dari dua tradisi historiografi tradisional dan kolonial itu bagi historiografi nasional Indonesia. Artikel singkat ini membahas tiga persoalan utama di atas yang akan didasarkan pada beberapa versi karya-karya historiografi tradisional khususnya babad dan juga historiografi kolonial, khususnya tulisan para sejarawan dan orientalis Belanda, seperti N.J. Krom, C.C. Berg, G.P. Rouffaer, W.F. Stutteherim, dan J.S.G. Gramberg.

Beberapa Teori tentag Kejatuhan Majapahit

Sirna ilang kertaning bumi dan Sirna ilang rasaning rat, adalah dua sengkalan[1] yang begitu popular dalam historiografi Jawa khususnya, dan Historiografi Indonesia pada umumnya. Keduanya menunjuk pada angka tahun yang sama yaitu, 1400 Saka. Sengkalan ini berasal dari Babad Tanah Jawi (Surakarta) dan Babad Kraton (Yogyakarta), yang disebut sebagai tahun keruntuhan kerajaan Majapahit setelah serangan Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Sejarawan yang mendukung pendapat ini adalah Thomas Stamford Raffles, yang memang dalam bukunya History of Java[2] banyak menggunakan sumber-sumber babad dannaskah jawa, khususnya naskah-naskah yang dijarah dari Kraton Yogyakarta pada tahun 1813. Sejarawan lain yang sependapat dengan Raffles adalah Slamet Muljana yang juga menggunakan sumber-sumber kronik dari Klenteng Sam Po Kong di Semarang, yang dibawa ke Belanda oleh Resident Poortman yang kemudian versi terjemahannya dilampirkan dalam buku M.O. Parlindungan.[3] Naskah yang sama juga dimuat dalam buku H.J. de Graaf dan Th. H. Th. Pigeaud tentang orang-orang Cina Muslim di Jawa pada abad ke-15 dan 16.[4] Sejarawan lain yang mendukung tentang runtuhnya Majapahit tahun 1400 Saka adalah Atmodarminto, yang dikenal dengan kajian dan tafsirnya terhadap Babad Demak. Atmodarminto mengatakan bahwa Majapahit hancur karena serangan musuh tahun 1400 Saka namun bukan oleh pasukan Islam dari Demak, tetapi oleh Adipati Siung laut dari Blambangan yang berkoaliasi denganPatih Gadjah Permada yang membelot. Atmodarminto mengatakan:

“Temenan, bareng golongan feodal kolot golongane Patih Gadjah Permada sing ditjritakake mau, saking panasing atine bandjur gelem mbantu Blambangan. Mesti wae bareng entuk pambijantune kaum feodal Madjapait golongan kolot, Adipati Sing Laut tumuli ngangkatake prajurite nggepuk Majapait. Wusana ana ing taun Saka 1400 sinengkalan “sirna ilang kertaning bumi” utawa taun Masehi 1478, kradjan Siwa/Budha Madjapait kelakon bedhah.”[5]

Sejarawan Belanda, N.J. Krom memiliki pendapat yang serupa dengan Atmodarminto, bahwa pada tahun 1400 Saka itu memang terdapat data sejarah yang menyebutkan bahwa Majapahit mendapatkan serangan militer, namun ia membantah bahwa serangan itu datang dari Demak. Ia mengatakan bahwa serangan itu berasal dari raja Kediri yaitu Girindrawardhana yang kemudian meneruskan pemerintahan Majapahit hingga beberapa saat lamanya.  Ia percaya bahwa Majapahit masih berdiri hingga tahun 1521 Masehi dan jika prasasti Pabanolan di Malang dipertimbangkan pula, maka Majapahit masih berdiri hingga tahun 1541 (Saka 1463).[6]

Beberapa peneliti memiliki pendapat yang berbeda tentang tahun kejatuhan Majapahit. Misalnya G. P. Rouffaer berpendapat bahwa jatuhnya Majapahit terjadi tahun 1518 Masehi.[7] Sementara itu W.F. Stutterheim memperkirakan runtuhnya Majapahit antara tahun 1514-1528 Masehi.[8] P.J. Veth yang mengaji prasasti Girindrawardhana (berangka tahun 1408 Saka), memperkirakan keruntuhan Majapahit setelah tahun 1488 Masehi.[9] Pandangan lain dikemukakan oleh B.J.O Schrieke, yang mengatakan bahwa Majapahit runtuh pada tahun 1468 Masehi karena serangan dari Bhattara ring Dahanapura (nama lain dari Girindrawardhana) dengan bantuan dari raja-raja di pesisir utara Jawa.[10]

Dari beberapa teori yang disampaikan itu menunjukkan bahwa pada umumnya serangan Girindrawardhana dianggap menjadi penyebab keruntuhan Majapahit. Seperti juga yang dikemukakan peneliti Indonesia Hasan Djafar yang menyatakan bahwa keruntuhan Majapahit terjadi karena sebab yang sama, namun ia lebih menunjuk angka 1519 Masehi sebagai tahun keruntuhannya. Angka ini ia ambil dari catatan Pigaffeta tahun 1511 yang menyatakan bahwa Pati Unus telah menguasai Majapahit.[11] Pendapat paling mutakhir tentang kejatuhan Majapahit dikemukakan oleh Paul Michel Munoz, yang mengatakan bahwa ujung akhir eksistensi Majapahir berakhir tahun 1527 Masehi ketika Sultan Trenggana dari Demak Bintara berhasil menghabisi Girindrawardhana.[12]

Kejatuhan Majapahit dalam Babad Jawa

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa ada dua babad yang menjadi sumber rujukan pokok para peneliti awal tentang kejatuhan Majapahit, yaitu yaitu Babad Tanah Jawi versi istana Surakarta dan sadurannya dalam bentuk prosa oleh Meinsma.[13] Ada satu sumber babad Jawa lain yang menurut Ricklefs yang lebih tua dari versi Surakarta, yaitu Babad Kraton yang tersimpan di British Museum (sekarang ada di  British Library) London. Naskah ini ditulis pada paruh ke dua abad ke-18, yang pada tahun 1813 jatuh ke tangan Johan Crafwurd, Residen Yogyakarta dan pada tahun 1841 dihibahkan di Bristih Museum London. Naskah ini diambil oleh tentara Sepoy ketika penyerangan terhadap Kraton Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1812. Menurut Ricklefs naskah ini lebih reliable sebagai sumber sejarah dari dua naskah sebelumnya mengingat usianya yang lebih tua. Bahkan ia menduka versi Surakarta kemungkinan berasal dari versi Yogyakarta ini.[14]

Sejauh yang berkaitan dengan jatuhnya kekuasaan Majapahit dari ketiga sumber utama babad yang telah ada ini memiliki narassi yang sama dalam hal latar belakang peristiwa, yaitu tentang munculnya dua tokoh penting Raden Patah dan Raden Husen/Kusen yang menjadi penutur utama tentang alasan-alasan penyerangan orang-orang Islam terhadap kerajaan Majapahit. Dalam babad diceritakan bahwa Raja Brawijaya memiliki banyak istri dan salah satunya adalah Putri Cina (Campa), Dwarawati. Namun karena kecemburuan para istri yang lain terhadapnya Dwarawati diberikan kepada Arya Damar dalam keadaan sudah mengandung. Dwarawati dibawa ke Palembang oleh Arya Damar dan melahirkan seorang putra diberi nama Patah. Dengan Arya Damar, Dwarawati juga melahirkan seorang putra yang dibesi nama Husen. Setelah dewasa keduanya menuju Jawa dan berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya dan memeluk Islam. Setelah dinyatakan selesai mempelajari Islam mereka ingin melanjutkan karir. Husen memutuskan untuk mengabdi kepada raja Majapahit dan akhirnya ditunjuk sebagai Adipati Terung, namun Patah menolak mengabdi kepada Brawijaya yang dianggap sebagai raja kafir. Ia memutuskan untuk pergi ke Bintara dan merintis kekuasaannya sendiri di sana. Setelah mengetahui bahwa Patah sebenarnya adalah putranya, Brawijaya tidak keberatan jika anaknya itu meneruskan karirnya di Bintara namun harus tetap menghadap secara rutin kepada raja setiap tahunnya. Namun setelah tiga tahun tidak menghadap Brawijaya mengutus saudara tiri Patah, Adipati Terung untuk mempertanyakan alasan Patah tidak menghadap ke Majapahit. Mulai dari sinilah terjadi variasi narasi dalam ketika babad itu yang tentu saja menimbulkan pemaknaan yang berbeda tentang jatuhnya Majapahit.

Menurut Babad Tanah DJawi (Babad Kraton) versi Yogyakarta,[15] Suatu ketika Adipati Terung diutus raja Majapahit untuk mencari tahu mengapa Raden Patah, Adipati Demak Bintara sudah tiga tahun tidak menghadap kepada raja Majapahit. Dijawab oleh Raden Patah bahwa ia hanya akan menghadap jika Raja Majapahit itu sudah memeluk Islam. Akhirnya Adipati Bintara mengerahkan pasukan menyerang istana Majapahit. Brawijaya dikatakan sebagai Raja yang Agung Binathara dan dapat mengetahui sesuatu sebelum terjadi, sehingga ia membiarkan Adipati Demak dan pasukannya masuk istana, setelah puas melihat anaknya itu, Brawijaya tiba-tiba lenyap melanjutkan takdirnya bersama dengan permaisuri. Demikian juga dengan Patih Gajah Mada dan kudanyapun ikut lenyap. Dalam Pupuh 13 Pangkur tertulis sbb;

“Adipati Bintara alon amuwus Rama djenenga ning Buda, patine makripat djati, sirna ilang rasaning rat sengkalane duk bedah (ing) Madjapahit”. Ayah adalah seorang Buda, meninggal dalam makrifat sejati, sirna hilang rasa raja (1400) angka tahun jatuhnya Majapahit”.[16]

Setelah itu harta benda kerajaan majapahit dijarah dibawa ke Bintara, antara lain Gong Sekar Dalima, Si Gatayu, dan Ki Macan Guguh. Adipati Bintara kemudian ditetapkan sebagai Raja Islam pertama di Majapahit bertahta di Demak.

Babad Tanah Djawi versi Surakarta (yang oleh Ricklefs di sebut “major” babad atau babad utama/babon) menceritakan bahwa Adipati Terung diutus Brawijaya untuk mendatangi kakaknya, Adipati Bintara, yang sudah lama tidak menghadap kepada raja. Ia mengatakan bahwa raja sangat menyayanginya dan sangat merindukannya, mengapa tidak mau lagi menghadap. Adipati Bintara mengatakan bahwa semua terserah pada Raja, ia percaya bahwa Raja memiliki kelebihan mengetahui segala sesuatunya. Ia mengakui bahwa ia membangun Bintara dari pedukuhan kecil menjadi kadipaten yang besar semua karena atas restu dari ayahandanya raja Majapahit. Adipati Bintara juga mengatakan bahwa ia hanya menjalani takdir bahwa di Bintara akan ada Ratu Islam pertama di tanah Jawa. Raja Majapahit sangat adil, pemaaf, asih terhadap umat Islam, namua ia adalah raja kafir dan ia tidak ingin melanggar ajaran agama (syara’), menyembah raja kafir, lebih baik mati sabil dan masuk surga. Adipati Terung menjawab, kalau begitu sebaiknya jangan tanggung-tanggung jika ingin melawan Majapahit sekalian saja, ia bersedia membantu. Kemudian kaingin untuk menakhlukkan Majapahit menjadi bulat dengan dukungan para wali di Jawa seperti Sunan Ampel, Sunan Giri dan juga raja-raja Islam lain seperti Arya Teja dari Tuban, Arya Baripin dari Madura, raja Surabaya dan juga Raja Pandita di Gresik. Mereka semua bersatu membantu Adipati Bintara menyerang Majapahit. Para prajurit Majapahit banyak yang melarikan diri, sehingga pasukan Bintara dapat masuk istana. Mendengar Adipati Bintara sudah masuk istana, Brawijaya mengajak patihnya segera naik di atas panggung sekedar untuk melihat putranya yang sudah lama tidak menghadap. Tiba-tiba dari puri istana yang sudah ditinggalkan itu muncul cahaya kilat yang sangat terang, kemudian cahaya berpindah dan jatuh jatuh di Bintara diiringi suara yang menggelegar dan setelah itu gelap, seperti kiamat. Adipati Bintara kemudian masuk di puri kraton dan tidak menemui seorangpun di sana. Ia merasa menangis dalam hati. Dan kemudian bersama pasukannya kembali ke Bintara.[17]

Versi ketiga adalah dari Babad Meinsma memiliki kesamaan dengan versi Surakarta, dan tampak jelas bahwa ia merupakan ringkasan dalam bentuk prosa dari isi babad versi Surakarta, sehingga tidak perlu dibahas secara khusus. Namun masih ada satu babad lagi yang penting untuk dipertimbangkan yaitu Babad Demak. Naskah ini telah disunting oleh Atmodarminto dan telah dimaknai lebih lanjut dengan masalah-masalah kemasyrakatan dan idiologi negara. Babad Demak memiliki versi sendiri tentang runtuhnya Majapahit.

Dalam Babad Demak diceritakan bahwa keruntuhan Majapahit akibat serangan dari Demak, dipimpin oleh Raden Patah dan Sunan Kudus. Setelah Majapahit hancur Brawijaya, murca atau hilang meninggalkan istana kemudian menjadi seorang Ratu Kajiman (raja bangsa Jin) di Gunung Lawu, yang kemudian dikenal dengan Sunan Lawu. Itu sebabnya hingga sekarang Keraton Surakarta dan Yogyakarta masih melakukan ritual sesajen ke tempat tersebut. Sementara itu orang-orang Demak tidak hanya menjarah harta benda dari istana Majapahit tetapi juga baju keprabon, pakaian raja, bangsal pengapit yang kemudian dijadikan bangsal Masjid Gede dan pengrawit yang kemudian dijadikan sebagai bangsal pengrawit di pagelaran untuk paseban agung sekaligus simbol pergantian raja. Sementara itu permaisuri Brawijaya Dyah Ayu Dwarawati, karena sudah beragama Islam tidak ikut murca dan diboyong ke Demak dan dinikahi oleh Sunan Kudus.[18] Seperti dikutip oleh Atmodarminto;

“Djebeng Kudus sira nuli

Lumebuwa djroning pura,

Andjaraha djroning kedaton,

Bojongen garwaning nata,

Dyah Ratu Dwarawatya,

Wanodya Islam pinundjul

Alapen kinarja garwa.

Lan brana sadjroning puri,

Tetilarane sri narendra,

Miwah kapraboning radjeng,

Sun pundut karya betuwah,

Salering panjenengan,

Pada gawanen sedarum

Marang negara Bintara

Lawan kang bangsal pengapit,

Kan wetan sira gawa-a,

Sun karja srambi mesjide,

Bangsal pengrawit prajoga

Ginawa mring Bintara,

Kinarja paseban agung,

Oratanda gumanti nata.[19]

Keruntuhan Majapahit dalam pandangan Historiografi Kolonial.

Sebelumnya telah dibahas bagaimana para sejarawan kolonial Belanda telah mengajukan beberapa pendapat tentang tahun runtuhnya kerajaan Majapahit. Kemudian bagaimana mereka memaknai tentang keruntuhan kerajaan Hindu itu? Dalam historiografi kolonial jatuhnya kekuasaan Majapahit dianggap sebagai akhir sejarah kebudayaan Hindu di Jawa dan dimulainya kebudayaan Islam. Sejarawan yang secara eksplisit mengatakan hal ini adalah N.J. Krom (1931), Hindoe-Javaansche Geschiedenis. Ia menulis:

“For Java, the flight (of Hindu Javanese dignitaries to Bali) if it took place fairly in a large scale, undoubtedly meant an impoverishment in cultural matters, for after all it was precisely the traditional proponents of Javanese culture who were most likely to flee. At the moment when the leadership of Java is no longer in Hindu-Javanese hands, but rather taken over my Islamic rulers, Hindu-Javanese history ends.”[20]

Sejarawan lain seperti J.G. de Casparis (1963) dan C.C. Berg  (1955)[21] juga memberi kesan serupa bahwa para sejarawan kolonial Belanda memiliki kecenderungan untuk menilai bahwa periode pra-Islam dalam sejarah Jawa adalah periode “keemasan” atau kebesaran yang berakhir dengan jatuhnya Majapahit. Dan sebaliknya periode Islam adalah periode kemunduran besar dalam peradaban Jawa. Kesimpulan ini tentu mengundang pertanyaan, mengapa para sejarawan kolonial cenderung melakukan glorifikasi terhadap periode Hindu Jawa? Bagaimana sebenarnya minat mereka muncul terhadap sejarah Jawa dan mengapa minat itu dikembangkan?

Kepopuleran babad Jawa di kalangan para intelektual Belanda harus dirunut dari berakhirnya Perang Jawa (1825-1830). Diponegoro sang pemimpin Perang Jawa menjadi pertanyaan penting bagi mereka yang ingin memahami idiologi yang menggerakan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda ini. Bagaimana seorang Jawa yang dimata orang-orang Belanda hidupnya lekat dengan mitologi dapat mengaplikasikan idiologi jihat Islam seperti yang dihadapai orang-orang Kristen dalam Perang Salib di Eropa. Keheranan inipun mendapat kritikan dari seorang penginjil Eropa, Gericke, yang aktif di Jawa pasca Perang Jawa dan sempat belajar di Pesantren Tegalsari. “bagaimana kalian (para pemimpin Negara Kolonial Hindia Belanda) dapat mempertahankan wilayah koloni, jika tidak dilandasi pengetahuan yang baik tentang masyarakat jajahannya. Belanda telah eksis di Jawa sejak abad ke-17 dan mulai mengontrol kekuasaan raja-raja Jawa secara efektif sejak paruh ke dua abad ke-18, namun belum menunjukkan adanya minat akademis untuk memahami masyarakat jajahannya.[22]

Sebagai perbandingan, Inggris yang hanya lima tahun menguasai Jawa (1811-1816) telah menghasilkan banyak kajian akademis yang ditulis oleh para pemimpinnya. Thomas Stamford Raffles menulis dua jilid History of Java,[23] dan John Crawfurd (Resident Yogyakarta pada saat itu) telah menerbitkan beberapa jilid History of Indonesian Archipelago.[24] Semuanya kini menjadi buku klasik yang masih dijadikan rujukan penting dalam historiografi modern Indonesia.

Kritik ini direspon oleh pemerintah kolonial dengan mendirikan Instituut voor Javaansche Taal di Surakarta yang dipimpin oleh C.F. Winter. Para pegawai muda kolonial yang akan ditempatkan di birokrasi kolonial di Jawa harus dilatih memahami bahasa Jawa. Lembaga ini pada awalnya berjalan dengan baik namun pada dalam perjalananya mendapatkan resistensi dari para muridnya yang merasa tidak layak menjadi murid seorang guru yang half-blood, (C.F. Winter yang merupakan keturunan Belanda-Jawa). Sehingga akhirnya lembaga ini dibubarkan, sebagai gantinya lembaga serupa dan lebih luas cakupannya didirikan di Delft Belanda.[25]

Dalam menjalankan kerjanya Winter sebagai pemimpin institut banyak bekerjasama dengan para pujangga lokal, seperta R. Ngabehi Ronggowarsito dan Kertapraja. Keduanya sangat mempuni dalam bahasa kesusastraan, penulisan sejarah Jawa. Winter sendisi tidak diragukan kemampuannya setelah sekian lama bergaul dan berguru dengan mereka. Mereka diibaratkan sebagai bronen van nutritie (sumber nutrisi) bagi Winter.[26] Lembaga ini juga yang banyak berperan melakukan pengumpulan sumber-sumber manuskrip Jawa dan juga penerjemahannya dalam Bahasa Belanda. Dari lembaga ini pula lahir Babad Tanah Jawi dalam versi prosa yang kemudian diedit oleh Meinsma, sehingga dalam dunia akademis Belanda dikenal dengan Babad Meinsma.

Menurut Ricklefs yang telah mengaji secara kritis tentang Babad Meinsma, yang kemudian diterjemahkan dan dilatinkan oleh Olthoff  (terbit tahun 1941) ini bersumber dari Major Babad Tanah Jawi dari istana Surakarta yang ditulis selama pemerintahan Susuhunan Pakubuwana IV. Sekarang salinan naskah ini berada di Universitas Leiden Belanda. Sementara itu naskah aslinya tidak lagi diketahui apakah masih ada di Surakarta. Babad Meinsma menurut Ricklefs sangat membantu dalam memahami struktur Babad Tanah Jawi secara keseluruhan dengan pembagian sub-sub bab di dalamnya, namun nilainya sebagai sumber sejarah rendah dan harus dibaca dengan seksama, karena telah mengalami penyuntingan berlapis. Bahkan edisi pertama dari naskah yang akan diterbitkan batal terbitkan karena pemerintah kolonial menginginkan adanya penghapusan beberapa episode penting yang dianggap terlalu mitologis.[27]

Namun di kalangan para sarjana Belanda karya Meinsma ini sangat popular dan menjadi rujukan penting banyak para penulis sejarah Jawa. Pada tahun 1939, Major Babad Tanah Jawi yang dikoleksi oleh Universitas Leiden itu dicetak masih dalam huruf Jawa ke dalam 31 buku oleh Balai Poestaka. Terbitan baru ini menjadi pembanding penting bagi karya Meinsma, mengingat karya ini yang menjadi sumber rujukan dari versi prosa. Karena karya ini masih dalam bentuk pusisi Jawa (tembang Macapat) dan dalam huruf Jawa tentunya masih kalah popular dengan karya Meinsma.

Glorifikasi Majapahit oleh Kaum Orientalis Belanda

Semakin membanjirnya naskah-naskah klasik Jawa sebagai sumber referensi instituut kolonial di Belanda, khususnya selama abad ke-18 yang oleh Pigeaud disebut sebagai “Renasissance Kesusatraan Jawa Klasik”[28] (masa Hindu-budha), maka wacana tentang kejayaan Jawa di masa Hindu-Budha mengemuka. Seiring dengan itu upaya-upaya melakukan rekonstruksi situs-situs peninggalan sejarah periode itu semakin gencar dilakukan. Berbagai artefak, prasasti dan segala sesuatu yang berkaitan dengan periode ini diburu dan dikaji. Dari kajian-kajian inilah kemudian mengemuka tentang Majapahit sebagai Kerajaan Hindu terbesar di Jawa yang kekuasaanya mencapai wilayah seberang lautan. Artikel dan buku tentang periode ini banyak ditulis dan diterbitkan. Bahkan karya-karya roman semi-sejarah mulai muncul. Di antaranya yang paling menarik adalah dua jilid roman Majapahit karya J.S.G Gramberg.[29] Dari kata pengantar bukunya di jilid pertama ini kita dapat memahami apa arah dan tujuan glorifikasi terhadap Majapahit ini. Dalam kata pengantar itu Gramberg mengritik kebijakan pemerintah kolonial yang ia katakana “telah membiarkan Islam berkembang di Jawa” yang telah menghancurkan kejayaan dan keunggulan budaya masyarakat Jawa. Islam dianggap menjadi biang keladi atas segala kehancuran masyarakat dan kebudayaan Jawa. Oleh karenanya menyarankan agar pengetahuan tentang sejarah Jawa dan masa keemasan mereka dapat menjadi pemahaman generasi baru masyarakat Jawa.

Dari pernyataan Gramberg ini jelas bahwa glorifikasi Majapahit menjadi landasan akademis untuk dapat menyadarkan masyarakat Jawa dari “kesesatannya” memilih Islam sebagai masa depan” yang tentu saja dianggap menjadi ancaman penting bagi tatanan kolonial yang sedang diperkuat di Jawa. Kuatnya literasi tentang narasi Majapahit dalam historiografi dan sastra kolonial ini menjadi pengetahuan dan ispirasi penting bagi para penulis Jawa di masa peralihan dari abad ke-19 hingga abad ke-20, ketika muncul karya-karya seperti Serat Sabdo Palon yang berisi ramalan-ramalan tetang kebangkitan lagi kejayaan Hindu-Budha 600 tahun sesudah kejatuhannya. Munculnya literasi jenis ini dianggap sebagai penyokong tradisi glorifikasi Majapahit ala orientalis Belanda dan sebagai narrative counter (narasi tandingan) atas menjamurnya teks-teks Islam. Karya-karya sastra sejenis yang dianggap sebagai oposisi Islam misalnya Serat Darmagandul dan Suluk Gatholoco. Naskah-naskah yang mendiskreditkan Islam dan mengagungkan kembali agama lama Jawa itu disinyalir sebagai wujud oposisi kelompo Kristen.[30]

Glorisfikasi Majapahit berlanjut di dalam kurikulam nasional sekolah-sekolah kolonial. Dari buku-buku pelajaran sejarah sekolah Eropa, seperti karya Krom dan Stutterheim.[31] Dan di masa kemerdekaan orang-orang seperti Muhammad Yamin menjadi penerusnya. Sejarawan yang kritis seperti Slamet Muljana[32] juga tidak dapat melepaskan diri dari tradisi ini sekalipun ia tidak melihat jatuhnya Majapahit sebagai diskontinuitas sejarah karena kemudian menyusul munculnya Islam dan kebudayaan Islam yang dianggapnya lebih sebagai penerus Majapahit dengan pakaian yang berbeda. Cara pandang Slamet Mulyana ini juga sejalan dengan penulis-penulis sejamannya seperti H.J De Graaf dan Pigeaud yang membuat seri kajian tentang kerajaan-kerajaan Islam di Jawa penerus Majapahit.[33]

Ada yang Ironis di sini bahwa glorifikasi Majapahit yang diinisiasi oleh para orientalis Belanda untuk mengendorkan perkembangan Islam atau sebagai oposisi terhadap Islam justru menjadi senjata makan tuan. Karena semangat penyatuan Nusantara di masa kejayaan Majapahit digunakan oleh para tokoh nasional dan pergerakan sebagai epitome negara baru yang merdeka dari kekuasaan kolonial.

Majapahit dalam Historiografi Nasional Indonesia

Sejarawan sekaligus ahli hukum seperti Muhammad Yamin adalah proponen utama yang ikut mengglorifikasi Majapahit. Ia menulis buku yang panjang lebar tentang Majapahit dan juga tentang Gadjah Mada.[34] Tak ketinggalan para tokoh nasional seperti Sukarno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 menggali nilai-nilai Pancasila dari nilai-nilai moral dan politik yang pernah diterapkan di Nusantara pada masa Majapahit. Ia memandang unitary state yang ingin dijadikan bentuk negara Indonesia yang akan segera diproklamerkan pada tanggal 17 Agustus itu adalah mendapat legitimasi historisnya dari pengalaman Sriwijaya dan majapahit. Pandangan-pandangan ini kemudian mempengaruhi banyak buku pelajaran sejarah sesudah kemerdekaan dan dalam historiografi Indonesia mempengaruhi penyusunan kronologi Sejarah Nasional Indonesia.

Pengajian tentang sejarah Majapahit semakin berkembang saat ini demikian juga publikasi tentang hasil-hasil kajian mutakhir itu. Perdebatan juga semakin meluas ke berbagai isu, dari kronologi, sebab-bab kejatuhan, sikapnya terhadap Islam dan juga reputasi politik dan ekspansi wilayah dan kekuasaanya. Beberapa tokoh pentingpun juga mulai diperbincangkan, dari para raja yang memerintah, para punggawa kerajaan, hingga perempuan-perempuan di sekitar raja dan bangsawan istana lainnya.  Maraknya literatur tentang sejarah Majapahit ini juga berpengaruh besar terhadap perkembangan karya fiksi maupun semi-fiksi tentang Majapahit.[35]

Dari sekian banyak kajian tentang Majapahit itu, pada umumnya tidak terlalu banyak perkembangan yang berarti dari sisi sumber penulisan khususnya sumber-sumber tertulis. Majapahit meninggalkan banyak artefak penting berupa material cultures, yang ditemukan di kompleks utama ibukota Majapahit dimana istana berdiri, tetapi sumber-sumber itu umumnya sumbe-sumber bisu yang masih perlu dikaji agar dapat menjelaskan banyak unsur tentang sejarah Majapahit.[36] Sementara itu sumber-sumber yang berupa prasasti rupanya sedikit dapat membantu menjelaskan kejatuhan Majapahit. Sekalipun parasasti-prasati itu sendiri tidak menyebutkan kejatuhannya namun usia-usia prasasti dapat dipakai petunjukkan tentang bentang waktu eksistensi kerajaan Majapahit. Contoh penting dari studi-studi terhadap prasasti-prasasti ini seperti yang dilakukan oleh J.G. de Casparis.[37]

Kesimpulan

Hingga saat ini kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan dari berbagai kajian-kajian tentang sejarah Majapahit yang dilakukan oleh sejarawan Indonesia maupun asing belum didasarkan pada bukti yang definitif tentang tahun keruntuhan Majapahit. Yang ada hanyalah patokan-patokan khusus yang digali dari berbagai sumber untuk mendapatkan bentangan waktu eksistensi kerajaan Majapahit. Terlepas dari berbagai perbedaan angka tahun yang dihasilkan itu namun ada suatu benang merah yang dapat ditarik bahwa keruntuhan Majapahit adalah proses yang gradual yang memakan waktu hingga beberapa dekade sampai akhirnya eksistensi Majapahit benar-benar lenyap dari Jawa Timur. Proses yang gradual itu merupakan kombinasi antara konflik politik yang melibatkan berbagai pihak, baik internal dinasti maupun para vasal Majapahit sendiri. Unsur-unsur lain adalah munculnya kekuatan baru Islam yang mengambil alih pusat-pusat ekonomi dan perdagangan di pesisir laut Jawa oleh kaum pedagang muslim. Demikian pula pertentangan aliran di dalam agama Hindu sendiri juga menjadi penyebab yang lain runtuhnya Majapahit.

Cara pujangga Mataram menggambarkan keruntuhan Majapahit, seperti yang digambarkan dari berbagai babad utama, jelas melibatkan unsur kekerasan, yang ironisnya ditempatkan dalam konteks pertalian genealogis. Namun gambaran seperti ini tidak hanya khas sejarah transformasi dari Hindu ke Islam pada abad ke-15 saja, namun juga menjadi pola pokok dalam sejarah politik Jawa di kemudian hari. Para pujangga Jawa dari periode Mataram Islam mengedepankan nilai-nilai keagamaan sebagai caesura untuk memisahkan secara tegas jaman lama (Hindu=kafir) dan Jaman Baru (Islam). Sebaliknya dalam tradisi historiografi kolonial, runtuhnya Majapahit (Hindu) dan munculnya Demak (Islam) adalah sebuah kemunduran dalam pencapaian budaya dan peradaban. Sebuah cara pandang yang sangat dipengaruhi oleh idiologi kolonial, untuk menepiskan Islam yang telah membawa efek buruk bagi eksistensi negara kolonial. Namun glorifikasi periode Hindu Jawa dengan menempatkan periode kekuasaan Majapahit  sebagai masa keemasan Jawa, telah dimanfaatkan oleh para tokoh pergerakan yang justru dimanfaatkan untuk mengembangkan rasa senasib dan solidaritas kebangsaan. Dengan kata lain senjata yang diciptakan oleh historiografi kolonial itu telah melukai dan bahkan membunuh si penciptanya sendiri ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dengan membangun landasan idiologi yang digali dari nilai-nilai dan capaian politik Majapahit. Glorifikasi terhadap Majapahit terus berlanjut hingga kini, dan seperti sulit untuk tidak mengakui bahwa semua itu bermula dari upaya-upaya yang telah dilakukan oleh sejarawan kolonial. Sebuah warisan historiografis yang berharga bagi historiografi nasional Indonesia sebagai landasan historis memumpuk persatuan dan kesatuan, dalam kerangka sebuah negara yang besar dan hegemonik.

Daftar Pustaka

Agus Aris Mundandar, Wilwatikta Prana: Kajian Arkeologi-Sejarah Zaman Majapahit, Wedatama Widya Sastra, 2018

Agus Aris Munandar, Ibukota Majapahit, Masa Jaya dan Pencapaian, Komunitas Bambu, 2008

Ahmad-Noor A. Noor, From Majapahit to Putrajaya: Searching for Another Malaysia, Michigan. Silverfishbooks, 2005

Aryo Sunaryo, Rerupa Sengkalan, Kajian Estetis dan Simbolis Sengkalan Memet Keraton Yogyakarta, Yogyakarta: Ombak, 2013.

Atmodarminto, Babad Demak: Diwerdeni gandenge karo kamasarakatan lan Pantjasila ideologi Negara Republik Indonesia tumeka saiki, Yogyakarta: Jajasan Penerbitan “Pesat”, 1955

Berg, C.C. Penulisan Sejarah Jawa, Jakarta: Bhartara, 1974.

Casparis, J.G. de, Prasasti Indonesia I, Bandung, 1950

Graaf, H.J. de dan Pigeaud, Th. H. Th., (ed. M.C. Rickelfs) Chinese Muslims in Java in the 15th and 16 Centuries: The Malay Annals of Semarang and Cerbon, Monash: Monas papers on Southeast Asia, No. 12, 1984.

Gramberg, J.S.G., Madjapahit. Oorspronkelijk romantisch tafereel uit de geschiedenis van Java. 2 Jilid – 1868

Hasan Djafar, Girīndrawarddhana: beberapa masalah Majapahit Akhir, Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1978

Helen Creese, In Search of Majapahit: The Transformation of Balinese Identities, Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, 1997

Herman Sinung Janutama, Kesultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi, Tim Kajian Kesultanan Majapahit, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik, PDM Kota Yogyakarta, 2010

I Gusti Made Warsika, Bali Kuno: runtuhnya kerajaan Majapahit dan Pengaruhnya terhadap Bali, Pustaka Bali Post, 2017

I Made KusumajayaAris SoviyaniWicaksono Dwi Nugroho, Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim, 200?

Irawan Djoko Nugroho, Meluruskan Sejarah Majapahit, Ragam Media, 2009

Joko DarmawanRita Wigira Astuti, “Sandyakala”: Di Tatar Sunda dan runtuhnya Imperium Hindu-Budha Majapahit, Deepublish, 2018.

Krom, N.J., Hindoe Javansche Geschiedenis, s’Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1931

Langit Kresna Hariadi, Majapahit: Sandyakala Rajasa Wangsa, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2012.

M. Rizal Qasim, Di Balik Runtuhnya Majapahit dan Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Araska Publisher, 2019

Mansoer Hidayat, Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru: Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur, Pustaka Larasan, 2013

Megandaru W. Kawuryan, Tata pemerintahan Negara Kertagama Keraton Majapahit, Panji Pustaka, 2006

Miksic, John N., Endang Sri Hardiati Soekatno, The Legacy of Majapahit, Singapore. National Heritage Board, 1995

Muhammad Muhlisin, Runtuhnya Majapahit dan Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam di Bumi Jawa: Sebuah Fakta Sejarah, Araska Publisher, 2015

Muhammad Yamin, Gadjah Mada, Jakarta: Balai Pustaka, 1953.

Parlindungan, M.O., Tuanku Rao, Yogyakarta: Lkis, 2007.

Pigeaud, Th. G. Th., Literature of Java : catalogue raisonne of Javanese manuscripts in the library of the University of Leiden and other public collections in the Netherlands, Leiden: Leiden University Press, 1980.

Raffles, Thomas Stamford, History of Java

Ricklefs, M.C., “The evolution of Babad Tanah Jawi Texts: In response to Day ”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 135 (1979), no: 4, Leiden, 443-454

Slamet Mulayana, Menuju puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, LKiS, 2005

Slamet Muljana, Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKiS Yogyakarta, 2005

S. Margana, Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial, Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Sri Margana, “Kolonialisme, Kebudayaan, dan Kebalian: Dari Kongres Kebudayaan Bali I Tahun 1937”, dalam I Nyoman Darma Putra dan I Gde Pitana, Bali dalam Proses Pembentukan Karakter Bangsa, Pustaka Larasan untuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, 2011

Tsuchiya, Kenji. “Javanology and the Age of Ranggawarsita: An Introduction to Nineteenth Century Javanese Culture,” Reading Southeast Asia. Ithaca: Cornell University Southeast Asia Program, 1990

Teguh Panji, Kitab Sejarah Terlengkap Majapahit: Ulasan Lengkap Pengaruh Kerajaan Majapahit terhadap Wajah Indonesia, Laksana 2015.

Vickers, Adrian, Majapahit: Inspiration for the World, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, 2014

Winter, C.F., Javaansche Zamenspraken II, Batavia: Balai Poestaka, 1928.


[1] Sengkalan adalah penyebutan angka tahun dalam bentuk rangkaian kata yang mana satuan terkecil dibaca dari belakang ke depan hingga satuan terbesar. Sengkalan terdapat dua versi yang disebut Candra Sengkala yang didasarkan pada lunar calendar (peredaran bulan) dan Surya Sengkala berdasarkan perdaran matahari. Dalam tradisi literasi Jawa hingga akhir abad ke-19 candra sengkala lebih banyak digunakan. Mengenai kajian kritis terhadap sengkalan lihat, Aryo Sunaryo, Rerupa Sengkalan, Kajian Estetis dan Simbolis Sengkalan Memet Keraton Yogyakarta, Yogyakarta: Ombak, 2013.

[2] Thomas Stamford Raffles, History of Java, 2 vols, London: John Murary, 1817

[3] M.O. Parlindungan, Tuanku Rao, Yogyakarta: LKiS, 2007.

[4] Lihat, Slamet Muljana, Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, LKiS Yogyakarta, 2005; H.J. de Graaf dan Th. H. Th. Pigeaud, (ed. M.C. Ricklefs) Chinese Muslims in Java in the 15th and 16 Centuries: The Malay Annals of Semarang and Cerbon, Monash: Monas papers on Southeast Asia, No. 12, 1984.

[5] Lihat Atmodarminto, Babad Demak: Diwerdeni gandenge karo kamasarakatan lan Pantjasila ideologi Negara Republik Indonesia tumeka saiki, Yogyakarta: Jajasan Penerbitan “Pesat”, 1955, hlm., 102. Ia juga menduga kemungkinan Siung Laut adalah Girindrawardhana.

[6] N.J. Krom, Hindoe Javansche Geschiedenis, s’Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1931. Dalam terbitan lain dalam edisi Indonesia lihat N.J. Krom, Zaman Hindu, Jakarta: P.T. Pembangunan Jakarta, 1956, hlm. 254-258.

[7] G.P Rouffaer, “Wanneer is Madjapahit gevallen?”, Bijdragen van het Koloniaal Instituut, No. 50 (1899), hlm. 297.

[8] Stutterheim, De Kraton van Madjapahit, Verhandelingen van het Kolonial Instituut voor de Taal-Land en Volkenkunde, vol 7, 1948.

[9] P.J. Veth yang berjudul : Java: Geographisch, Ethnologisch, Historisch, Haarlem: Erven F. Bohn, 1875-1884.

[10] B.J.O Schrieke, Indonesian Sociological Studies Part II: Ruler and Realm in Early Java, The Hague: Martinus Nijhoff, 1957., hlm. 67.

[11] Hasan Djafar, Girīndrawarddhana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir, Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1978.

[12] Paul Michel Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Nusantara dan Semenanjung Malaysia: Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Jaman Pra Sejarah-Abad XVI), Yogyakarta: Mitra Abadi, 2006), hlm. 413.

[13] Versi Meinsma ini kemudian disunting kembali dan diterbitkan oleh W.L. Olthof, Babad Tanah Jawi Saking Nabi Adam dumugi Tahun 1647”, telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, Lihat, W.L. Olthof, Babad Tanah Jawi dari Nabi Adam hingga Tahun 1647, Yogyakarta: Narasi, 2007.

[14] Ricklefs, M.C., “The Evolution of Babad Tanah Jawi Texts: In response to Day ”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 135 (1979), no: 4, Leiden, 443-454: Mengenai naskah-naskah dari keraton Yogyakarta yang dibawa ke Inggris lihat, M.C. Ricklef, Voorhoeve and Annabel Teh Gallop, Indonesian Manuscript in Great Britain, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor, 2011.

[15] Transkripsi dan terjemahan lengkap dari naskah ini lihat Maharsi, Babad Tanah Jawi Versi Yogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta: Adab Press,  2012.

[16] Ibid. hlm. 160

[17] Ricklefs, Ibid.

[18] Lihat Atmodarminto, Babad Demak: Diwerdeni gandenge karo kamasarakatan lan Pantjasila ideologi Negara Republik Indonesia tumeka saiki, Yogyakarta: Jajasan Penerbitan “Pesat”, 1955, hlm. 102.

[19] Ibid.,  hlm. 103.

[20] N.J. Krom, Hindoe Javansche geschiedenis, s’Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1931

[21] Berg, op.cit.

[22] Minat terhadap Bahasa dan kebudayaan Jawa pada awalnya muncul dari para penginjil Eropa seperti Gericke yang memiliki kepentingan untuk menyebarkan agama dan menerjemahkan Injil ke dalam Bahasa Jawa. Minat ini kemudian mendorong untuk eksplorasi lebih jauh tentang Jawa dari berbagai aspek, baik seni, budaya hingga sejarah. Mengenai peran Gericke lihat kata pengantar buku C.W. Winter, Javaansche Zamenspraken II, Batavia: Balai Poestaka, 1928.

[23] Raffles, op.cit.

[24] Johan Crawfurd, History of Indonesian Archipelago, 6 vols, Edinburgh, 1820.

[25] Tsuchiya, Kenji. “Javanology and the Age of Ranggawarsita: An Introduction to Nineteenth Century Javanese Culture,” Reading Southeast Asia. Ithaca: Cornell University Southeast Asia Program, 1990; Lihat juga S. Margana, Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001

[26] Mengenai peran C.F. Winter dalam Lembaga ini dan dalam produksi dan reproduksi naskah Jawa untuk kepentingan kolonial lihat kata pengantar yang diberikan oleh penerbit Balai Poetaka dalam buku C.F. Winter, Javaansche Zamenspraken II, Batavia: Balai Poestaka, 1928.

[27] Ricklefs, op.cit.

[28] Th. Pigeaud, The Literature of Java, Vol. I,

[29] J.S.G. Gramberg, Madjapahit. Oorspronkelijk romantisch tafereel uit de geschiedenis van Java. 2 Jilid – 1868

[30] M.C. Ricklefs, Polarizing Javanese Society: Islamic and Other Visions, Singapore: Singapore University Press, 2007.

[31] Lihat N.J. Krom, op.cit, dan juga W.F. Stutterheim, op.cit.

[32]Slamet Mulayana, Menuju puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, LKiS, 2005

[33] Graaf dan Pigeaud, op.cit.

[34] Muhammad Yamin, Gadjah Mada, Jakarta: Balai Pustaka, 1953.

[35] Salah satu di antaranya serial fiksi tentang Majapahit karya Langit Kresna Hariadi, Majapahit: Sandyakala Rajasa Wangsa, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2012.

[36] Laporan hasil kajian arkeologis yang penting dari Majapahit lihat, John Miksic dan Endang H.S., The Legacy of Majapahit, Singapore: Heritage Board, 1995.  Lihat pula Agus Aris Munandar, Wilwatikta Prana: Kajian Arkeologi-Sejarah Zaman Majapahit, Wedatama Widya Sastra, 2018

[37] J.G. De Casparis, Prasasti Indonesia, I dan II, Bandung, 1950 dan 1958.